Sel09232014

Last update01:53:51 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

SKK Migas Lempar Handuk

JAKARTA - Tahun 2014 baru berjalan dua bulan. Namun, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) sudah lempar handuk alias menyerah mengejar target produksi minyak tahun ini.
    Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SKK Migas Johanes Widjonarko mengatakan, target lifting atau produksi siap jual minyak yang dipatok dalam APBN 2014 sebesar 870.000 barel per hari (bph) dipastikan tidak akan bisa dicapai. "Dengan berbagai optimalisasi yang dilakukan, maksimal tahun ini hanya 813 ribu (barel per hari)," ujarnya usai rapat koordinasi sektor energi di Kemenko Perekonomian kemarin (28/2).

    Menurut Widjonarko, jika mau realistis, target yang paling mungkin dicapai tahun ini hanyalah 804.000 barel per hari. Angka itu muncul dari kesanggupan pada kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) yang tertuang dalam rencana kerja dan anggaran atau work plan and budget (WP and B) perusahaan migas. "Kami sudah menginventarisasi proyek-proyek yang bisa dioptimalkan. Tambahannya hanya 9 ribu (barel per hari)," katanya.
    Tahun ini, Chevron dan Pertamina masih akan menjadi tulang punggung produksi minyak Indonesia. SKK Migas mencatat Chevron Pacific Indonesia (CPI) masih akan menjadi produsen minyak terbesar di Indonesia dengan target 302.983 barel per hari, disusul Pertamina EP dengan target 125.000 barel per hari.
Di bawahnya ada Total E&P Indonesie dengan target 62.910 barel per hari. Lalu Pertamina Hulu Energi ONWJ dengan target 39.400 barel per hari. Kemudian CNOOC Ses Ltd dengan target 34.005 barel per hari, ConocoPhilips Ind Ltd dengan target 24.843 barel per hari, dan Mobil Cepu Ltd sebagai operator Blok Cepu hanya menargetkan produksi rata-rata 31.100 barel per hari untuk tahun ini.
    Widjonarko mengakui, molornya jadwal produksi puncak Blok Cepu menjadi salah satu penyebab sulitnya mencapai target produksi. Dia menyebut, Cepu yang awalnya diharapkan bisa mencapai produksi puncak 165.000 barel per hari mulai Juli, mengalami beberapa kali revisi. Yakni, menjadi September 2014, bahkan awal tahun 2015. "Tapi, kita baru lakukan pembahasan dengan Mobil Cepu Limited (operator) dan katanya November bisa (masuk produksi puncak)," sebutnya.
    Sementara itu, lapangan-lapangan lain sulit diharapkan bisa memberi tambahan produksi. Bahkan, menurut Widjonarko, seiring usia lapangan minyak yang makin tua, produksi pun dipastikan mengalami penurunan alamiah atau natural decline. "Setelah Cepu, kita memang tidak menemukan lagi cadangan minyak dalam jumlah besar. Jadi, sulit menaikkan produksi secara signifikan," ujarnya.
    Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Pri Agung Rakhmanto mengatakan, saat ini pemerintah memang harus realistis untuk tidak mematok target lifting terlalu tinggi. Apalagi, jika hanya mengandalkan produksi Blok Cepu. "Kalau (produksi puncak) Cepu ini meleset lagi, ada kemungkinan lifting minyak tahun ini bisa di bawah 800 ribu barel per hari," katanya.
    Menurut Pri Agung, upaya optimalisasi produksi seperti penggunaan metode enhanced oil recovery (EOR) hanya akan memperlambat penurunan produksi alamiah. Namun, metode itu tidak bisa mendongkrak produksi. Karena itu, yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah mendorong perusahaan migas untuk giat melakukan eksplorasi agar menemukan cadangan minyak baru, terutama di lepas pantai atau offshore.  (owi/sof/vin/ce6)