Back Anda disini: Home

Artikel

Empat Pelajar Diduga Sekap Bocah

PALEMBANG - Aparat Unit Perlindungan, Perempuan, dan Anak (PPA) Satreskrim Polresta Palembang pimpinan Ipda Imelda Rahmat berhasil mengungkap kasus penyekapan  terhadap bocah di bawah umur, M Rafli Betaliko (11). Empat pelakunya merupakan pelajar SMA di Kota Palembang yang diamankan dari sebuah rumah kontrakan di kawasan Jl Inspektur Marzuki, belakang Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas I A Pakjo, Kelurahan Siring Agung, Kecamatan IB I, Palembang, Kamis (28/2) petang.
Pengungkapan kasus ini setelah ada laporan orangtua korban, yakni Sujoko (43), warga Jl Macan Lindungan, Lr Tunggal III, RT 01/05, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan Ilir Barat (IB) I, Palembang dengan tanda bukti lapor Nomor Lp/B-519/II/2014/Sumsel/Resta, Selasa (25/2) lalu. “Korban dilaporkan telah disekap dan dianiaya oleh tersangka di rumah kontrakannya, sejak Sabtu hingga Selasa pagi. Kami menindaklanjuti laporan tersebut dan menangkap para tersangka yang tengah berkumpul di rumah kontrakan mereka,” ujar Kasat Reskrim Polresta Palembang, Kompol Djoko Julianto SIk MH melalui Kanit PPA Ipda Imelda Rahmat, kemarin.
Empat orang diduga pelaku semuanya berstatus pelajar SMK. Mereka Dimas (15), Agung (15), Boby (17), dan Puput (15). Penyidik telah menetapkan mereka sebagai tersangka dengan jeratan UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak, ancaman hukuman di atas 15 tahun penjara. “Nanti akan kembali lagi kepada pertimbangan hakim. Karena, sejak keluarnya UU baru, tersangka di bawah umur akan tetap menjalani hukuman meski hanya sepertiga dari hukuman orang dewasa,” imbuhnya. Empat tersangka yang ditemui di ruang tahanan Piket Satreskrim Polresta Palembang tak mau bicara bahkan terkesan menutup diri terhadap kasus yang membelit mereka.
Sementara itu, informasi yang dihimpun Sumatera Ekspres menyebutkan, korban M Rafli Betaliko (11) menghilang dari rumah, Sabtu (22/2) lalu. Sujoko, orangtuanya sempat melakukan pencarian terhadap korban sebelum akhirnya Selasa (25/2) pagi diantarkan oleh penarik ojek ke rumahnya.
 Sujoko menuturkan saat di antar tukang ojek, kondisi muka anaknya sudah memar. “Dio ngaku digebuki dan diborgol, disetrum dengan alat, disundut pakai rokok, dipanggang dengan besi panas dan diancam pakai senpi. Juga dipukul pakai kayu balok,” kata Sujoko lagi.
Akibatnya, korban yang masih duduk di bangku kelas IV Sekolah Dasar itu mengalami sejumlah luka pada tubuhnya. Antara lain, benjol di kening, beret alis, dan mata kanan luka. Begitu juga bibir bawah pinggang dan punggung luka.
Menurut Sujoko, jarak dari rumahnya di Jl Macan Lindungan, Lr Tunggal III, RT 01, Kelurahan Bukit Baru, Kecamatan IB I, Palembang ke lokasi tempat penyekapan Jl Inspektur Marzuki, belakang Lapas Klas I A Pakjo, memang cukup jauh. “Sebelumnyo, anak aku memang pernah ke situ (TKP) dengan kawannyo naik angkot. Nah, kabarnyo pas dio ke situ ado yang kehilangan duit. Pas ke situ lagi hari Sabtu tu (kejadian 22/2), mungkin budak ni dendam apo cakmano jadi pas anak aku ni nak makan nasi goreng dio dikejar dan ditangkap,” bebernya lagi.
Diceritakan Sujoko, anaknya berhasil kabur setelah memanfaatkan kelengahan tersangka yang tengah tertidur. Ia membuka sendiri borgol dan pintu rumah lalu meminta pertolongan dengan warga sekitar.
Pengakuan berbeda muncul dari Umar (44), orangtua Dimas, salah satu tersangka penyekapan. Menurut dia, anaknya melakukan perbuatan itu lantaran ulah korban yang mencuri uangnya Rp60 ribu. Kekesalan itulah yang membawa Dimas Cs membawa korban ke rumah untuk dimintai pertanggungjawaban.
“Rafli itu sebelumnya pernah datang ke rumah anak kami karena kenalnya di game centre. Datang diantar oleh kawan Dimas, Bobi namanya. Dua hari nginap di sana sudah dianggap adik sendiri, dikasih makan dan dimandikan. Tapi pas pulang, uang Dimas hilang dan diambilnya (Rafli),” bela Umar.
Dia juga membantah jika anaknya dikatakan melakukan penyekapan. Sebab menurutnya tetangga mengetahui jika Rafli kerap datang ke rumah Dimas. “Tidak mungkin disekap namanya kalau orang dan tetangga tahu dia suka datang ke rumah kami,” pungkas Umar asli warga OKI ini. (aja/ce1)