Sen09012014

Last update10:33:50 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Sakit Hati Tak Direstui dan Ditinggal Kawin

Video mesum berjudul Fatim vs Wndo dengan durasi sekitar sembilan menit enam detik yang beredar melalui handphone (hp) mengguncang Kayuagung. Arif Suwondo (22) penyebar video itu telah dijadikan tersangka. Apa motifnya?

HUSNI AKHMAD - Kayuagung

    “Siapa yang tidak sakit hati kalau ditinggal kawin oleh pacar”. Itulah kalimat pertama yang terucap dari mulut Wondo, saat dibincangi wartawan Sumatera Ekspres di Mapolres OKI. Warga Desa Kepahyang itu mengakui telah menyebarkan video “hubungan terlarangnya” dengan sang mantan pacar, Ftm (17) hanya karena alasan sakit hati.
    Wondo mengaku sudah berusaha keras mempertahankan hubungan yang mereka jalin agar sampai ke pelaminan. Kandasnya pertalian cinta dengan dara asal Desa Sindang Sari itu tampaknya tak bisa diterima Wondo.
           Ia kenal Ftm pada 2011. Perkenalan yang boleh dibilang tak sengaja itu terjadi saat salah seorang keluarga Wondo nya mengadakan hajatan di Desa Sindang Sari. Ketika itulah keduanya bertemu, lalu kenalan dan saling tukar nomor hp. Ketika itu Ftm masih berstatus siswi kelas II salah satu MTs di Belitang, OKU Timur. Hanya saja orang tua Ftm tinggal di Desa Sindang Sari.
Perkenalan itu berlanjut. Dari yang semula saling telepon, Wondo akhirnya sering ngapel ke Belitang, tempat Ftm tinggal bersama pamannya. “Keakraban kami tidak disetujui orang tuanya dengan alasan dia masih sekolah,” kata Wondo.
Makin tak direstui, dua sejoli yang mabuk cinta ini justru makin lengket. Awal 2012, Ftm minta pindah sekolah ke desa kelahirannya, namun tak disetujui orangtuanya. Karena itu akhirnya Ftm berhenti sekolah dan kembali ke rumah orangtuanya di Desa Sindang Sari.
“Saat dia pindah, hubungan kami makin jadi. Tiap ada kesempatan kami bertemu,” ungkap Wondo. Sampai akhirnya pertengahan Januari 2013 lalu ada hajatan keluarga di Desa Kepahyang, di kediaman Wondo.
Saat itu rumahnya sedang kosong, dan di ruang tengah rumah terjadilah hubungan terlarang di antara keduanya, tapi korban masih perawan. Ketagihan, Wondo dan Ftm kembali melakoninya di bawah pohon  karet di belakang rumah, hanya beralaskan kain sarung.
Selanjutnya tak terhitung lagi berapa kali sudah perbuatan layaknya suami istri mereka lakukan. “Kadang di rumah dia, kadang juga di rumah saya,” cetus Wondo. Termasuk juga usai ia menjemput Ftm pulang kerja dari toko pakaian di pasar Tugu Mulyo atau saat Ftm mampir ke rumah ketika Wondo selesai membuat batu bata.
           Sekitar bulan Juni, Wondo mengaku mulai jarang ketemu Ftm yang sering pergi ke rumah pamannya di Belitang. Ia mulai curiga karena pacarnya saat itu mulai menjauh. Ia lalu mendengar selentingan kabar kalau Ftm akan dijodohkan dengan pemuda Belitang.
Wondo berusaha menghubungi Ftm dan sang pacar akhirnya pulang ke Desa Sindang Sari. Hubungan keduanya kembali membaik. Pertengahan Juli 2013, mereka kembali berhubungan badan. “Saat itulah saya rekam biar orangtuanya melihat adegan tersebut dan merestui hubungan kami. Rupanya mereka bertambah tidak senang dan dia dijodohkan kepada pemuda lain,” bebernya.
Hubungan Wondo dan Ftm benar-benar terpisah hingga Desember 2013 sang pacar dilamar pemuda asal Belitang. Pada 15 Februari 2014, ia mendapat kabar Ftm menikah. “Saat dia bertunangan, saya selalu menghubungi. Tapi selalu mendapat jawaban pura-pura tidak kenal dengan saya. Padahal hubungan kami sudah dua tahun lamanya,” tutur  Wondo murung.
           Wondo juga sempat “minta jatah” tapi tidak pernah digubris Ftm. Hingga akhirnya dia menyebarkan video keintiman mereka yang semula hanya agar orangtua Ftm merestui hubungan mereka.
Dalam rekaman berjudul  Fatim  vs Wndo  itu terlihat seorang perempuan mengenakan baju kaus  warna hitam bergambar Winni the Pooh, kaus dalam berwarna pink, dan memakai calana panjang hitam serta ikat pinggang putih. Sementara pria  yang merekam sama sekali tidak terlihat wajahnya, hanya terekam lengan dan sebagian badannya  yang tidak mengenakan baju.
          Adegan itu direkam pria tersebut di atas ranjang beralasan tikar dalam sebuah gubuk terbuat dari papan. Sesekali terdengar  percakapan keduanya dalam bahasa Jawa. “Iki apa-apaan, ko direkam,” kata sang perempuan yang sudah menanggalkan celananya. Sementara sang pria yang merekam menjawab, “Wes meneng wae”. Sang perempuan kembali berkata “Meneng wae apo dio”. (*/ce1)