Back Anda disini: Home

Artikel

Miliki Riwayat Hipertensi, Segera Periksa Fungsi Ginjal

Ginjal merupakan bagian organ tubuh yang memiliki banyak peran. Selain berfungsi sebagai penyaring racun dan zat sisa 
dalam darah, ginjal juga menjaga keseimbangan volume dan komposisi cairan tubuh, mengatur keseimbangan asam-basa dan mengatur tekanan darah. 
---------------------------------------
 
DI Indonesia, frekuensi penyakit ginjal kronis (chronic kidney disease atau CKD) terus meningkat setiap tahun. Dikatakan dr Nur Samsu SpPD KGH, spesialis penyakit dalam, konsultan ginjal dan hipertensi RS Dr Saiful Anwar Malang. CKD merupakan penurunan kondisi fungsi ginjal, yang ketika sudah terjadi, tidak dapat dikembalikan seperti semula. Beberapa gejala yang umum menyertai CKD, antara lain sesak napas, mual, anemia, sulit tidur, atau gangguan otot.
“Ketika seseorang sudah mengalami CKD, orang tersebut rentan mengalami hipertensi dan diabetes melitus. Kedua penyakit itu tentu saja juga sangat berkaitan dengan gaya hidup dan pola makanan sehari-hari,” katanya di sela-sela workshop Konas Pernefri XII, di Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) Palembang, kemarin (16/10). 
Ada beberapa cara yang bisa dipakai untuk menangani CKD, yaitu dengan mengonsumsi protein hewani sebesar 0,6—0,75 gr/kg/hari, mencukupi kalori sebesar 35 kalori, mengurangi asupan garam, dan mengonsumsi air minum sesuai kebutuhan.
Tetapi, menurut Nur Samsu, penanganan tersebut dilakukan hanya bagi pasien yang masih di stadium awal. Sedangkan pasien yang sudah dalam stadium akhir atau gagal ginjal perlu melakukan terapi ginjal, seperti cuci darah (hemodialisis), CAPD (pemasangan kateter) atau transplantasi ginjal.
Cuci darah atau hemodialisis dilakukan pada pasien dengan penyakit ginjal akut dan kronik. Penyakit ginjal kronik dapat menyerang secara tidak terduga, karena gejalanya tidak terlihat jelas. “Penyakit ginjal kronik diawali dengan sakit yang terjadi secara perlahan-lahan, gejalanya tidak terlihat, kecuali kita melakukan pemeriksaan penunjang,” tambahnya.
Sedangkan untuk penyakit ginjal akut, menyerang secara tiba-tiba dimana fungsi ginjal tidak dapat berkerja. Untuk melakukan pengobatan harus mencari latar belakang penyebabnya. Bisa jadi, kata dia, pasien dengan kasus diabetes dan hipertensi kebanyakan juga menderita penyakit ginjal.
“Penderita hipertensi bisa menjadi penyebab dan tanda penyakit ginjal, begitu juga sebaliknya,” kata dia. Sedangkan untuk volume cuci darah pada penderita ginjal akut dapat disesuaikan dengan kondisi pasien itu sendiri.
Namun, untuk penderita ginjal kronik, minimal cuci darah selama lima jam dalam kurun waktu satu minggu dua kali atau lebih juga lebih baik, cuci darah selama empat jam dilakukan dalam jangka waktu seminggu tiga kali. Akses vaskuler merupakan komponen kunci pada setiap pelaksanaan hemodialysis. Akses vaskuler yang ideal seharusnya efektif, andal, mudah digunakan, dan aman terhadap pasien. Namun, pada kenyataannya ketersediaan akses vaskuler yang ideal ini masih sulit dicapai. Kateter temporer HD sebagai akses vaskuler dapat memberikan banyak manfaat pada pasien bila dipahami benar tentang teknik insersi, pemilihan lokasi insersi, pemilihan kateter serta tindakan pencegahan dan penanganan komplikasi.
Ditambahkan dr Maruhum Bonar H Marbun SpPD K-GH FINASIM dari RSCM Jakarta, penggunaan kateter untuk hemodialisis sampai saat ini masih tinggi, walaupun telah dilakukan berbagai usaha untuk mengurangi penggunaan kateter. Data dari Forum of End-Stage Renal Disease Network menunjukkan bahwa 21 persen pasien yang baru memulai hemodialisis menggunakan kateter sebagai akses vaskuler selama lebih dari 90 hari.
“Di Amerika, berdasarkan data USRDS tahun 2009, lebih dari 80 persen pasien penyakit ginjal tahap akhir (PGTA) menggunakan kateter dialisis dan seperempat di antaranya tetap bergantung pada kateter tersebut untuk waktu yang lama,” pungkasnya. (may/ce6)