>> Home Metropolis Biaya Sekolah Anak, Disarankan Buka Warung
Kekurangan 136.049 Rumah
PALEMBANG – Angka kekurangan rumah (backlog) hingga 2018 diperkirakan Dinas ...Readmore
Kelilingi Bukit Siguntang
PALEMBANG – Dalam rangka memperingati Waisak 2557 BE, ribuan umat Buddha men...Readmore
Endara-Syahrima, Jawara BGP 2013
PALEMBANG –  Endara Prima Wardhana dan Syahrima FN akhirnya terpilih se...Readmore
Konser Musik, Bertabur Artis
PALEMBANG – Menyemarakkan HUT Palembang ke-3300, pemkot menyiapkan berbagai&...Readmore
Hilmi Ditanya Rekaman Rp 15 M
JAKARTA - Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Hilmi Aminuddin akhirnya ...Readmore
  • Kekurangan 136.049 Rumah

    PALEMBANG – Angka kekurangan rumah (backlog) hingga...

  • Kelilingi Bukit Siguntang

    PALEMBANG – Dalam rangka memperingati Waisak 2557 B...

  • Endara-Syahrima, Jawara BGP 2013

    PALEMBANG –  Endara Prima Wardhana dan Syahrim...

  • Konser Musik, Bertabur Artis

    PALEMBANG – Menyemarakkan HUT Palembang ke-3300, pe...

  • Hilmi Ditanya Rekaman Rp 15 M

    JAKARTA - Ketua Dewan Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ...

NEWS UPDATE

Stop
Play
Biaya Sekolah Anak, Disarankan Buka Warung PDF Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Minggu, 24 Juni 2012 07:48

Siang kemarin, Tina tampak mengenakan “pakaian kebesaran” Gabungan Becak Palembang (GBP). Tiba di sana, koran ini melihat ia sedang bercengkerama dengan para tetangganya. Raut wajahnya terlihat senang saat jajaran Dinas Sosial (Dinsos) Sumsel datang membawa beberapa bingkisan berupa bahan sembako seperti beras, gula, minyak goreng, dan lainnya.
Namun, Tina belum mengetahui maksud dari pemberian tersebut. “Mereka datang memberikan bingkisan, terus bilang kalau ada pejabat mau datang. Jadi saya disuruh menunggu di rumah, tidak usah ke mana-mana,” tuturnya. Sembari menunggu pejabat dimaksud, ia bercerita kepada koran ini sepenggal kisah hidupnya.
Untuk menghidupi kedua anaknya, Tina rela menjadi penarik becak. Mangkal becaknya di kawasan Internasional Plaza (IP). Sudah 13 tahun profesi ini dilakoninya. Keluar rumah pukul 06.00 WIB dan baru pulang pukul 01.00 WIB. Tak jarang pula ia menginap di dalam becaknya karena terlalu lelah untuk pulang ke rumah.
“Kadang saya tertidur di becak. Saat terbangun pagi, orang sudah banyak,” ucapnya. Keterbatasan ekonomi membuat ia pernah diusir dari rumah kontrakannya karena tak punya uang membayar sewa. Ia dan kedua anaknya terpaksa tinggal di dalam becak dengan membawa seluruh perabot rumah yang dapat dibawa.
Jadilah, seluruh kegiatan mandi, mencuci, serta tidur ia lakukan di dalam becak. Ia juga sempat ditegur oleh Camat dan ketua RT setempat agar tidak menjemur pakaiannya di atas becak karena mengganggu pemandangan.
“Tapi bagaimana lagi, saya tidak ingin begitu, tapi terpaksa,” ujarnya geram mengingat peristiwa itu. Karena kejadian itu, ia sempat jadi bahan pemberitaan media massa lokal. Bantuan pun lantas mengalir silih berganti. Bahkan ada donatur yang mengontrakkan rumah bagi ia dan kedua anaknya. Jadilah, sejak saat itu mereka tidak tinggal di pinggir jalan lagi.
“Alhamdulillah, sekarang kami bisa tidur dengan nyaman,” cetus Tina. Kontrakan Tina berukuran 3 x 4 meter. Ruang tamu, ruang tidur menyatu dengan dapur. Meski begitu, ia senang karena kedua anaknya tidak kedinginan angin malam. Ia juga tetap melakoni pekerjaan menarik becak karena tidak punya keahlian lain. “Cuma ini yang aku bisa,” terangnya.  
Ia bisa memperoleh Rp30-40 ribu per hari, hanya cukup untuk makan dan uang sekolah kedua anaknya. Ia bertekad, sepeninggal suaminya akan membesarkan kedua buah hatinya dengan cara apapun. “Mau naik becak, memulung sampah, kuli panggul aku siap asal anak-anakku tidak menderita,” ujarnya sembari terisak.
Obrolan dengan Tina terhenti saat salah seorang petugas Dinsos Sumsel memberitahukan kalau pejabat dimaksud sudah tiba. Tina tampak terkejut melihat pejabat dimaksud bukan pejabat daerah biasa, tapi Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri. “Assalamualaikum, apa kabar Bu?” kata Salim yang saat itu didampingi istrinya.
Tina pun lalu mempersilakan masuk beliau. Seketika rumah sempit itu penuh sesak oleh Mensos dan rombongan, termasuk insan pers yang berusaha mengabadikan momen tersebut.
Mensos menanyakan beberapa hal seputar aktivitas keseharian Tina. Sesekali, ia mengerenyitkan dahi mendengar kegigihan ibu dua itu berjuang mencari nafkah untuk keluarganya. Salim memberikan saran kepada Tina agar mencari pekerjaaan lain supaya fokus memperhatikan kedua anaknya.
“Ini juga demi kesehatan ibu. Jangan sampai saat anak-anak sudah besar, mereka kebingungan karena ibunya sakit-sakitan,” katanya seraya memberikan solusi untuk Tina berdagang membuka warung kecil-kecilan.
Salim pun sempat terkejut mendengar pengakuan Tina yang bingung karena tidak ada uang untuk melanjutkan pendidikan anaknya, Rajab (13) ke SMP. Tina mengaku harus menyiapkan uang sebesar Rp1,5-Rp2 juta untuk memasukkan anaknya ke SMP. Mensos meminta dinas terkait agar mengecek kebenarannya, bila perlu pimpinan sekolah tersebut diperiksa.
“Ibu jangan khawatir, untuk SMP apalagi negeri itu gratis untuk semua anak. Tugas ibu sekarang mempersiapkan usaha apa yang bagus untuk kelangsungan hidup ibu nanti. Soal modal usahanya, nanti kita bantu,” tegasnya sembari mengakhiri kunjungan di kediaman Tina.
Setelah Mensos pergi, Tina membuka amplop pemberian sang pejabat dan sujud syukur saat mendapati sejumlah yang di dalamnya. “Ini rezeki kamu, Nak,” ujarnya sambil memeluk kedua buah hatinya.
Mensos sendiri melanjutkan kunjungannya ke Graha Pena, markas besar Harian Pagi Sumatera Ekspres. Kedatangannya disambut General Manager (GM) Sumatera Ekspres H Subki Sarnawi, Wapemred Agus Srimudin, Kabag Humas Anto Narasoma, Manager Advertising Area Palembang, St Reno Irawan dan jajaran, termasuk pemenang JOS (Journalist to School) dan kru Xpresi.   
Sebelumnya, Mensos Salim Segaf Al Jufri telah lebih dahulu menghadiri haflah Ponpes Raudhatul Ulum Sakatiga Inderalaya, Ogan Ilir. Di sana, Mensos secara simbolis memberikan bantuan rehab rumah kepada 10 kepala keluarga (KK).  Tiap KK menerima bantuan uang Rp10 juta untuk membeli material rumah.
“Harapannya, rumah yang direhab dapat bermanfaat sepanjang masa,” cetusnya.
Kemensos sendiri, kata Salim, menargetkan 15 ribu rumah keluarga tidak mampu untuk direhab. Seluruh provinsi akan mendapat jatah bantuan rehab rumah. “Kabupaten Ogan Ilir dipilih sebagai salah satu daerah penerima bantuan rumah rehab rumah dari Kemensos karena termasuk satu dari 50 kabupaten tertinggal di Indoensia,” tukasnya. (*/ce1)


Caption:
SEMANGAT: Tina sedang menarik beca di kampungnya, 24 Ilir Palembang. Mensos Salim Segaf Aljufri memberikan cendera mata kepada General Manager Sumatera Ekspres, H Subki Sarnawi, kemarin.


Add this to your website
 

--------------------------------------------------

GELORA SRIWIJAYA

article thumbnailGoyang Gergaji Mantan Klub
23 Feb 2013

PALEMBANG - Gelandang sayap Sriwijaya FC M Fahrudin akan kembali bersua menghadapi Arema Cronous, mantan klub yang membesarkan namanya. Pada laga Minggu (24/2), Fahrudin mengaku kalau dirinya ingin [ ... ]


Berita lain

Harian Pagi Sumatera Ekspres
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Barlian No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : (0711) 411768, 415263, 415264
Fax :  (0711) 420066
Info Berlangganan : (0711) 7739888
Info Layanan Iklan : (0711) 420078