Kam09032015

Last update05:31:25 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Puasa, Tradisi dan Kearifan Lokal

Oleh: A HELMY FAISHAL ZAINI*)
*) Ketua Fraksi PKB DPR (Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.
 
BULAN puasa telah tiba. Sebagaimana biasa, gegap gempita menyambut kedatangan bulan 
sakral ini berlangsung dengan begitu riuhnya. Tak terkecuali dengan bermunculannya kembali budaya-budaya lokal yang arif (local genius) yang murni hasil kreasi manusia-manusia Nusantara dalam rangka menyemarakkan bulan suci tersebut.
Pierre Bourdieu (1988), budayawan Prancis, pernah mengatakan, sejatinya manusia hidup dan berinteraksi dengan simbol-simbol. Dia lebih jauh menjelaskan, simbol itulah yang mendominasi seluruh aktivitas yang dijalankan seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang dikatakan Bourdieu tersebut sungguh sangat menarik jika kita bumikan sebagai pisau analisis untuk mendiskusikan perilaku keagamaan dan tradisi-tradisi lokal manusia Nusantara dalam menyemarakkan bulan puasa. Sebab, tidak bisa dimungkiri bahwa banyak sekali budaya arif yang bersifat lokal yang oleh umat muslim Nusantara dijadikan medium dan instrumen untuk ”berdakwah” di bulan suci ini. Jean Baudillard (2001) menyebutnya sebagai sebuah kreativitas simbolis. Kreativitas simbolis adalah sebuah kreasi yang diberi muatan nilai-nilai tertentu dengan tujuan agar bisa dipahami sang komunikan (orang/khalayak yang diajak berkomunikasi).
Berbicara kreativitas simbolis tersebut, umat muslim Indonesia adalah rajanya. Banyak sekali budaya lokal yang dimodifikasi sedemikian rupa dan dimasuki nilai-nilai religiusitas sehingga laik dan pantas dijadikan semacam ”menu wajib” yang harus ada selama bulan puasa.
Pertama, budaya slametan dan megengan. Tradisi megengan adalah tradisi berkirim doa kepada yang sudah meninggal dan dilakukan pada malam hari sebelum melakukan Tarawih pertama. Biasanya tradisi megengan ini diawali dengan tradisi nyekar, yakni berkunjung dan ziarah ke makam keluarga dan leluhur yang lebih dulu dipanggil Allah SWT.
Pada tradisi megengan tersebut, sesungguhnya umat Islam sedang membangun sebuah komunikasi simbolis. Pesan yang ingin disampaikan ialah bahwa yang dianggap sudah meninggal selama ini sesungguhnya bukan berarti ia tidak ada. Sebaliknya, yang sudah meninggal sejatinya hanya berpindah tempat dan ia harus didoakan keselamatannya.
Kedua, selain tradisi megengan, masyarakat muslim Nusantara memiliki tradisi unik yang genuine lainnya, yakni tradisi patrol. Patrol adalah tradisi membangunkan masyarakat dengan cara bersalawat diiringi alat musik seadanya dan dilakukan dengan rute mengelilingi kampung.
Memang tidak bisa dipukul rata bahwa tradisi patrol selalu bernilai positif. Di beberapa daerah, patrol yang awalnya dijadikan medium untuk membangunkan warga untuk makan sahur, oleh beberapa oknum, dibelokkan dan didekonstruksi menjadi negatif. Misalnya, beberapa kali tradisi patrol menyulut sentimen kelompok sehingga terjadi tawuran kecil-kecilan. Namun, pada hemat saya, kejadian semacam itu adalah bagian dinamika dari proses pembudayaan menuju masyarakat yang lebih beradab.
Penting untuk dicatat bahwa kreativitas adalah hal yang utama.
Sebab, saya percaya Einstein bahwa imagination more than knowledge. Imajinasi jauh lebih penting dibandingkan sebuah pengetahuan. Nah, buah dari imajinasi adalah kreativitas itu sendiri. Persoalannya kemudian adalah bagaimana mengarahkan kreativitas-kreativitas tersebut menjadi sebuah adonan kebudayaan yang bermanfaat, itu saja.
Ketiga, dan ini yang menurut saya masih minim, adalah tradisi sahur bersama. Belum ada kajian serius yang menganalisis mengapa sampai saat ini masih jarang kita jumpai kegiatan-kegiatan sahur bersama tersebut. Tradisi sahur bersama masih kalah jauh dibanding kegiatan buka bersama.
Padahal, saya sangat setuju dengan alasan filosofis mengapa sahur bersama perlu digalakkan. Alasan tersebut bermuara pada kesadaran bahwa sahur bersama berarti mengajak menjalankan puasa bersama. Hal ini tentu saja lebih bernilai ibadah dibanding buka bersama yang pada hakikatnya mengajak orang untuk membatalkan puasa.
Terlepas dari itu semua, yang terpenting, dengan aneka kreativitas tradisi lokal umat Islam Nusantara yang begitu kaya dan meruah tersebut, tugas kita bersama adalah bagaimana berupaya dengan sungguh-sungguh dan terus-menerus mencoba memasukkan nilai-nilai religious edukatif pada budaya-budaya tersebut. Sebab, pada tradisi-tradisi yang kaya, tidak akan ada artinya dan ia akan hanya berhenti sebagai sebuah tradisi jika kita tidak dengan sungguh-sungguh selalu mencoba memodifikasi serta sembari terus mencoba memasukkan nilai-nilai religius edukatif di dalamnya.
Lalu, jika ada yang bertanya-tanya nilai-nilai apa yang terkandung dalam tradisi lokal tersebut? Maka, dengan tegas, pada hemat saya, setidaknya ada tiga nilai yang dominan. Pertama, nilai-nilai dakwah dan syiar Islam yang dibalut kreativitas akulturasi budaya. Kedua, nilai-nilai silaturahmi yang produktif dan maslahah. Kemudian, nilai kedua tersebut sangat mungkin melahirkan nilai ketiga, yakni nilai ekonomi kreatif masyarakat.
Akhirnya, kita tahu, dalam tradisi NU, yang demikian itulah yang sesungguhnya disebut ”al-mukhafadhotu alal qadimish sholih wal akhdu bil jadidil ash- lah” yakni menjaga tradisi dan mengembangkan inovasi. Wallahu a’lam bis-sawab. (*/ce4)