Sab10252014

Last update06:17:17 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Bangkai Buaya 2 Kwintal Dibawa ke Pendopo Gubernur

PONTIANAK – Buaya berkulit kuning yang menghebohkan warga Danau Gunung Keladi, Mandor, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat, Minggu (12/10), akhirnya tewas di kolam warga setempat. Oleh warga, bangkai buaya seberat lebih dari 200 kilogram (2 kwintal) tersebut dibawa ke Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, Jalan A Yani, Pontianak, Senin siang (13/10).
 
Gubernur Kalimantan Barat langsung memanggil sejumlah pihak terkait untuk menangani buaya itu. Yakni, dinas peternakan dan kesehatan hewan serta Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA).
 
Bangkai buaya berjenis kelamin betina tersebut kemudian dibawa ke laboratorium dinas peternakan dan kesehatan hewan untuk dibedah demi mencari penyebab kematiannya.
 
"Kami akan bedah dulu. Setelah itu, kami akan memberi keterangan," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kalimantan Barat Abdul Manaf.
 
Menurut Kepala Seksi III BKSDA Wilayah Singkawang P. Samosir, berdasar dugaan sementara, buaya itu mati karena stres dan kelelahan. Sebab, tidak ditemukan bekas sayatan atau tusukan benda tajam dan luka pukul di sekitar tubuhnya. Dia juga mengapresiasi masyarakat yang tidak "mengutak-atik" bangkai buaya tersebut.
 
Dia menyebutkan bahwa bangkai buaya jenis senyulong atau julung-julung sepanjang 3,18 meter itu akan diawetkan setelah dibedah. Itu, tambah dia, akan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang buaya senyulong.
 
"Bahwa hewan ini dilindungi dan harus dijaga keberadaannya,’’ ungkapnya kepada Pontianak Post (Grup JPNN.com).
 
Samosir berharap agar warga segera melapor ke BKSDA jika kembali menemukan buaya sejenis.
 
"Informasinya, masih ada beberapa buaya sejenis di sana. Kalau warga ketemu lagi, tolong laporkan kepada kami. Nanti kami kirim tim rescue ke sana untuk menanganinya," tuturnya.
 
Dia menjelaskan, buaya senyulong adalah reptil yang masuk kategori apendik satu atau hewan yang terancam punah. Keberadaannya dilindungi negara.
 
Sihis (45), salah seorang warga yang menangkap buaya itu, menuturkan bahwa hewan buas tersebut ditemukan saat penduduk mengeringkan Danau Gunung Keladi. Pengeringan danau yang jaraknya 3 kilometer dari permukiman warga tersebut berhubungan dengan rencana pemerintah setempat untuk dijadikan tempat wisata.
 
"Lalu, kami ramai-ramai mengepung buaya itu. Ada seratusan orang yang nangkap. Tetapi, kami tidak pakai alat. Kami pakai tangan kosong supaya tidak menyakiti buaya tersebut," ucapnya.(ars)