Sel09232014

Last update10:00:16 PM

Back Anda disini: Home

Artikel

Pertahankan Harga, Bangun Hilirisasi

PALEMBANG - Terus merosotnya harga komoditi karet saat ini hampir menyamai harga pada 2006 lalu.

Bahkan tahun ini bisa dibilang lebih akut karena harga komoditas tergerus oleh nilai tukar rupiah. Beberapa bulan terakhir harga komoditas sempat tertolong karena pelemahan rupiah membuat nilai ekspor lebih tinggi.
Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan (Disbun) Sumsel, Benyamin mengatakan, ada beberapa hal yang membuat kondisi komoditi saat ini terus mengalami penurunan. Diantaranya banyaknya stok komoditas yang dimiliki Tiongkok. “Padahal negara ini adalah salah satu importir yang sangat strategis karena menyerap banyak komoditas dari Indonesia,” ujarnya akhir pekan lalu.
Dikatakannya, pada 30 April lalu, harga karet slab giling menyentuh angka Rp11.077 per kg, menurun dibanding awal 2014 yang mencapai Rp12.100 per kg. “Jika harga turun yang paling terkena dampak adalah petani, terutama petani swadaya. Karena hasil produksi mereka dijual murah. Sehingga kinerja tak sesuai harapan,” ungkapnya.
Anjloknya harga komoditas itu, lanjut Benyamin, membuat petani kesulitan untuk mendapatkan keuntungan dari hasil kerjanya jika langsung dijual. “Tapi jika disimpan di gudang akan terjadi penyusutan yang juga menyebabkan merugikan. Apalagi belum tahu kapan harga karet akan naik. Selain itu bila harus menyimpannya tentu membutuhkan modal besar,” kata dia.
Menurutnya, penurunan harga ini juga dipengaruhi karena tidak adanya produk hilirisasi yang membuat Indonesia masih bergantung pada pasar luar negeri. “Jika kita bisa mengelola sendiri hasil komoditi ini, tentu harga bisa dipertahankan. Karena yang kita ekspor adalah barang jadi tentu harganya lebih tinggi,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumsel, Alex Kurniawan Eddy menambahkan, saat harga karet turun membuat pengusaha kesulitan untuk memasarkan produknya. “Pertama, kami kesulitan untuk memasarkan produk komoditas karena permintaan berkurang. Selain itu, keuntungan yang didapat juga jauh lebih berkurang. Itu karena sebenarnya pengusaha tidak ambil banyak untung dari petani,” ujarnya.
Dikatakan, harga diambil dari petani adalah 90-94 persen dari nilai jual. “Itu pun untuk biaya operasional. Seperti pengiriman keluar negeri dan biaya lain,” imbuhnya.
Menurutnya, lonjakan harga karet memang sempat terjadi beberapa bulan lalu. Tapi bukan karena perbaikan harga melainkan dampak dari pelemahan rupiah terhadap dollar. “Harga cenderung dipengaruhi pasar global. Jika pasar global baik, permintaan akan meningkat dan harga otomatis naik,” tukasnya. (cj9)