Back Anda disini: Home

Artikel

Pemeriksaan Pilot AirAsia Narkoba Rampung Lima Hari

JAKARTA - Pilot AirAsia berinisial FI yang terindikasi positif mengonsumsi zat narkoba kemarin (2/1) menjalani peme­riksaan lanjutan di Balai Kesehatan Penerbangan, Jakarta. Pemeriksaan lanjutan itu dilakukan untuk memastikan bahwa zat yang terdeteksi hanya bagian dari pengobatan. FI datang pada Jumat pagi untuk memberikan sampel darah dan rambut Hasil pemeriksaan rampung lima hari ke depan.

Ketua Kelompok Medis Balai Kesehatan Penerbangan Sri Aryani mengatakan, pihaknya mengadakan tiga tes.

 ''Selain itu, kami melakukan tes kuantitatif dengan sampel urine yang diambil kemarin. Sampel sebanyak 50 cc kami bawa ke Laboratorium Kesehatan Daerah di Jalan Percetakan Negara, Jakarta. Tes ini dilakukan untuk melihat berapa sebenarnya kadar zat dalam urine tersebut. Kalau yang kemarin, kan hanya dipastikan ada,'' ungkapnya.

 Sri menjelaskan, tiga sampel tersebut memang harus diteliti agar bisa memberikan kesimpulan yang tepat. Sebab, zat narkoba pada urine dinilai bisa tersamarkan dalam waktu 24 jam saja. Sementara itu, zat narkoba pada dua sampel lain bisa bertahan lebih lama. ''Zat narkoba bertahan berminggu-minggu. Kalau di rambut, bisa hitungan bulanan,'' ungkapnya.

 Karena itu, dia meminta publik menunggu hingga ada hasil resmi tes tersebut. Menurut dia, proses tersebut bisa selesai pada lima hari kerja. Hal itu sesuai dengan jangka pemeriksaan urine yang diakui membutuhkan waktu paling lama. Setelah itu, pihaknya menyerahkan hasilnya ke Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara untuk ditindaklanjuti.

 Pada kesempatan yang sama, Kepala Balai Kesehatan Penerbangan Kapten Avrianto mengimbau masyarakat agar tidak menyimpulkan secara awal. Menurut dia, kemungkinan bahwa zat yang terdeteksi alat saat sidak tersebut merupakan sisa obat masih ada. Hal itu pun sebenarnya sudah diungkapkan yang bersangkutan melalui formulir pemeriksaan.

 Menurut Avrianto, FI telah melakukan kesalahan prosedur. Seharusnya pilot yang menjalani perawatan khusus atau mengon­sumsi obat melaporkan hal tersebut ke Balai Kesehatan Penerbangan. Dengan begitu, pihaknya bisa memberikan keterangan resmi untuk disampaikan. ''Kalau kami sudah memberikan keterangan, tentu hasil sidak seperti ini bisa dihindari,'' jelasnya.

 Kondisi saat ini, lanjut dia, bakal digunakan sebagai bahan evaluasi. Salah satunya kepatuhan operator untuk mengikuti prosedur pelaporan kesehatan. Meski sudah melakukan check up enam bulan sekali, pilot masih berkewajiban melaporkan kondisi kesehatan yang berubah sebelum terbang. Aturan itu belum dipatuhi seluruh pelaku industri penerbangan. ''Semua ini bergantung kesadaran perusahaan dan individu masing-masing. Sebab, yang bisa kami lakukan hanyalah mengingatkan dan memberikan sosialisasi,'' ungkapnya.

 Selain itu, dia bakal mendorong maskapai agar mempunyai fasilitas kesehatan internal yang cukup. Salah satunya dokter spesialis penerbangan atau biasa disebut flight surgeon. Sampai saat ini, dia mencatat hanya Garuda yang mempunyai fasilitas tersebut. Apalagi, pemerintah sudah mewajibkan adanya flight surgeon di setiap maskapai.

 ''Saya akan terus menyosialisasikan perlunya prosedur dan fasilitas kesehatan. Hal ini dilakukan untuk kepentingan bersama. Kalau sudah terjadi seperti kemarin, kan akhirnya pilot terpaksa ditarik dan diganti kru lain. Penerbangan pun tertunda. Kalau sudah begini, semua pihak rugi,'' imbuhnya.(bil/c7/sof)