Back Anda disini: Home

Artikel

Selalu Kontrol saat Hamil

Saat hamil, sebagian wanita hamil mengalami preeklamsia, yakni tekanan darah tinggi pada ibu hamil dan kelebihan kadar protein dalam urine atau proteinuria. Kondisi itu cukup berbahaya bagi ibu hamil (bumil), begitupun dengan calon bayi.

Seseorang dinyatakan  mengalami tekanan darah tinggi apabila tekanan darah di atas 130/90 mmHg. Sedangkan tekanan darah normal, 120/80 mmHg. “Angka ini baru disebut preeklamsia bila usia kehamilan sudah menginjak 20 minggu ke atas,” terang dr Firman SpOG (K).
Pada kondisi hamil, lanjutnya, tekanan darah ibu seharusnya normal atau justru lebih rendah. Namun, ada juga sebagian bumil akan mengalami tekanan ketika tubuhnya secara otomatis mengencerkan dan menambah volume darahnya.
“Gunanya adalah agar bisa lebih banyak mengalirkan oksigen dan sari makanan ke janin. Selain itu, penambahan volume darah juga sebagai persiapan untuk proses melahirkan,” terangnya. Tambah Firman, di mana si ibu akan mengeluarkan banyak darah. “Gejalanya, seperti pusing, kaki bengkak, dan mata berkunang-kunang. Jika kondisi ini tanpa penanganan, akan mengalami kejang atau biasa disebut dalam dunia medis eklamsia,” jelasnya.
Namun, peristiwa tersebut jarang terjadi. Sebenarnya, preeklamsia juga tanpa gejala dan ketika kontrol kehamilan baru ketahuan bahwa tekanan darahnya tinggi. “Penyebab pasti preeklamsia hingga saat ini tidak diketahui dengan jelas. Diduga karena kondisi plasentanya kekurangan oksigen atau ada gangguan di pembuluh darah,” paparnya.
 Kondisi ini harus mendapat perhatian khusus karena akibatnya bisa membahayakan. Ketika tekanan darah sudah amat tinggi, misalnya sampai 170 atau 200, satu-satunya tindakan adalah segera mengeluarkan janin agar tekanan darah ibu kembali normal. “Bila tidak segera dilakukan, maka nyawa ibu maupun si bayi bisa menjadi korban. Secara medis, memang penting untuk menyelamatkan keduanya. Namun, kalau tidak bisa, yang diutamakan adalah keselamatan ibunya,” tegasnya.
 Jika kehamilan sudah di atas 24 minggu, dokter akan bertanya ke NICU (Neonatal Intensive Care Unit) atau biasa dikenal dengan istilah bayi prematur, bayi yang lahir belum cukup usia kehamilan. Di Indonesia, rata-rata bayi baru siap dilahirkan pada kehamilan 28 minggu. Meski begitu, risiko kesehatan bayi lahir prematur sangat tinggi, karena paru-parunya belum matang dan perkembangan organ-organ, serta otaknya belum sempurna.
 Mencegah kondisi ini, Firman menyarankan, kontrol kehamilan secara teratur dalam 9 bulan mengandung, minimal kontrol kehamilan empat kali. Satu kali di trimester pertama untuk memastikan adanya kehamilan, satu kali di trimester kedua, dan dua kali di trimester ketiga. “Dalam empat kali, minimal kunjungan itu akan dilihat tekanan darahnya serta kondisi kesehatan janinnya. Karena itu, kontrol kehamilan menjadi sangat penting. Sebab, preeklamsia dan eklampsia itu salah satu penyebab kematian ibu di dunia, termasuk di Indonesia,” imbaunya.
 Di Tanah Air, ada tiga penyebab terbesar kematian ibu akibat melahirkan, yaitu perdarahan, preeklamsia, dan eklampsia, serta infeksi. “Bila seorang ibu hamil terdeteksi tekanan darahnya tinggi, maka ia harus mengurangi asupan garam, mengurangi makanan berlemak, istirahat cukup, dan minum obat resep dokter yang aman untuk janin,” ujarnya.
Hal ini untuk memastikan bayi bisa dilahirkan sampai usia yang cukup. Karena, ketika tekanan darah tinggi, maka pembuluh darah si ibu mengerut sehingga aliran darahnya ke janin berkurang. Akibatnya, janin pun menderita di dalam karena oksigen dan makanan berkurang. (cj3/ce4)