Sab08302014

Last update02:12:58 AM

Back Anda disini: Home

Artikel

Hanya Satu Detik, 100 Persen Dijamin Akurat

Siswa SMAN Sumsel, Jery Octavianus dan Abu Hanifah Ramadhani menorehkan prestasi yang membuat provinsi dan negara ini berbangga hati. Belum lama ini, keduanya meraih medali emas dalam Indonesian Science Project Olympiad (ISPO) 2014.

DEBY ARIYANTO - Palembang

Ajang ISPO yang diselenggarakan Pacific Countries Social and Economic Solidarity Association (PASIAD) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) belum lama berlalu. Namun, tanggal 20 Februari 2014 itu menjadi kenangan terindah bagi Jery dan Abu.
    Hari itu juga bisa dibilang hari yang membanggakan bagi SMAN Sumsel, Provinsi Sumsel, bahkan Indonesia. Inovasi mereka berupa alat pendeteksi golongan darah sukses mengantarkan dua siswa kelas XI jurusan IPA tersebut meraih medali emas dalam ajang tersebut.
    Berjumpa keduanya di SMAN Sumsel, kemarin, rona kegembiraan masih terpancar pada raut wajah Jery dan Abu. Dalam obrolan santai, tercetuslah alasan keduanya menghasilkan inovasi alat pendeteksi golongan darah.
    Karya tersebut bermula dari kekhawatiran mereka terhadap seringnya bencana alam di Indonesia. Para korban bencana harus dicek dahulu golongan darahnya dengan alat dan sistem konvensional. Prosesnya masih dianggap lamban dan makan waktu.
 “Sementara, saat terjadi bencana alam, tim medis dituntut untuk sigap dalam menangani korban. Kalau alat pendeteksi darah konvensional membutuhkan waktu 30 menit untuk mendeteksi golongan darah seseorang. Makanya kami lakukan inovasi,” beber Jery.
Untuk membuat satu unit alat pendeteksi darah inovasi baru itu mereka menghabiskan waktu sekitar dua bulan. Butuh waktu untuk mendapatkan alat-alat sensor yang dipesan dari luar Kota Palembang. Ada sensor LCD, LED, Photodia, PCB, dan microcontroller sebagai prosesor.
Sebagian komponen lainnya didapatkan dari Palembang.  “Yang kita pesan dari luar kota secara online karena di Palembang masih minim peralatan robotica,” ungkapnya. Jery menjelaskan kalau cara kerja alat pendeteksi darah hasil karya inovasi mereka yang tidak berbeda dengan alat pendeteksi darah konvensional pada umumnya.
Hanya saja inovasi keduanya punya keunggulan, yakni bisa lebih cepat mendeteksi jenis golongan darah seseorang. “Alat inovasi kami ini hanya butuh satu detik, langsung terdeteksi golongan darah apa yang dicek,” tambah Abu. Satu kekurangan dari inovasi mereka, bagian resistornya belum bisa mendeteksi kapan harus dilakukan pergantian baterai pada alat ini.
Kelebihan lain selain cepat mendapatkan hasil, keakuratan hasil pendeteksian dengan alat ini tidak perlu diragukan lagi. Abu dan Jery telah melakukan tes secara sampling pada 15  orang. Hasil pengecekan dengan alat inovasi ini sama persis dengan golongan darah orang-orang yang menjadi sampel melalui pengujian sebelumnya.
“100 persen sama,” tegasnya. Untuk mencoba keakuratan alat ini, keduanya pernah menaruh cairan yang menyerupai darah. Hasilnya, alat tersebut secara otomatis mengeluarkan tulisan “tidak terdeteksi” dan menolak cairan tersebut untuk diidentifikasi.
Keduanya saat ini sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti kompetisi lanjutan dari PASIAD tersebut. Ajang tingkat nasional tersebut akan digelar di Belanda. Jery dan Abu menunggu jadwal yang akan diinformasikan tim PASIAD kepada mereka berdua. Dan untuk mengikuti ajang tersebut, keduanya mengembangkan alat pendeteksi golongan darah itu agar mampu juga mendeteksi gula darah dalam waktu cepat.
 “Pengembangan ini agar bisa mendeteksi glukosa, supaya ada yang baru ketika kompetisi nanti. Mudah-mudahan kami bisa mendapatkan juara lagi,” tuturnya.
Kepala SMAN Sumsel Dra Erma Retnowati MM mengungkapkan, pihak sekolah men-support penuh siswa yang membuat inovasi dan berguna bagi semua orang. “Alhamdulillah, SMAN Sumsel memperoleh medali emas dan dapat menjuarai tingkat nasional. Prestasi akademik dan non akademik akan terus kami tingkatkan lagi,” pungkasnya. (*/ce2)