Back Anda disini: Home

Artikel

Tak Ada Pelampung, Hanya Andalkan Jeriken

Miris. Itulah kata yang pantas disematkan pada kondisi alat transportasi massal jalur perairan di wilayah Palembang. Betapa tidak, ketek hingga kapal cepat jenis 
speedboat yang mangkal di sejumlah dermaga di kota pempek banyak tak dilengkapi alat keamanan. Berikut penelusuran Sumatera Ekspres.
------------------
PEMILIK transportasi sungai dan laut berupa ketek, jukung hingga speedboat masih minim kesadaran terhadap keamanan penumpangnya. Padahal, sudah banyak terjadi kecelakaan hingga korban tewas yang melibatkan para transportasi jenis tersebut.
Padahal kota sekelas Palembang yang notabenenya kota internasional semestinya memiliki alat transportasi yang menerapkan SOP (standar operasional prosedur). Ini dilakukan untuk standar keamanan bagi warga yang menjadi penumpang. Mengingat di perairan Palembang menuju daerah-daerah lain di Sumsel masih rawan terjadi kecelakaan. 
Pantauan Sumatera Ekspres di Dermaga 16 Ilir, kemarin (18/2) di sejumlah kapal motor, ketek, dan speedboat sama sekali tidak menyediakan alat keamanan dan pelampung. Para penumpang tidak dibekali alat keamanan jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, seperti terbaliknya kapal dan olengnya kapal ketika menabrak benda keras di atas perairan.
Abdullah, sopir speedboat KM (kapal motor) Kasih Sayang jurusan Palembang-Jalur 14 mengatakan, kapal motor yang dinakhodainya sama sekali tidak memiliki pelampung. Dia mengaku, memang selama ini speedboat yang dikemudikannya tidak memasang alat keamanan seperti pelampung. 
"Memang sudah begitu, kita tidak menyediakan pelampung. Paling untuk keamanan kita siapkan jeriken minyak untuk bekal perjalanan, jangan sampai kehabisan minyak," ujarnya saat ditemui di dermaga bawah Jembatan Ampera.
Karena tidak menyediakan alat pelampung,  Abdullah mengakui memang merasa waswas setiap kali mengantar penumpang. "Rasa ngeri itu selalu ada setiap kali ngantar penumpang. Terutama ketika berada di tikungan, saya harus melambatkan speedboat," ujarnya.
Jika ombak tinggi, ia juga berupaya mengendarai secara pelan-pelan. "Tapi kalau soal ombak masih bisa diatasi, jangan bae sampai nabrak benda keras lain," ungkap warga Kertapati ini.
Abdullah berharap supaya pemerintah mau membantu memberikan alat pelampung ke setiap kapal motor. "Batas maksimal penumpang di kapal motor ini 30 orang. Jarak perjalanan dari Palembang ke Jalur 14 dan sebaliknya sekitar 2,5 jam," jelas Abdullah yang baru 6 bulan sebagai sopir kapal motor.
Senada diungkapkan Adi, sopir KM Awet Muda jurusan Palembang-Karang Agung mengatakan, untuk standar keamanan pelampung ia mengaku kurang mengetahuinya. Sejauh ini, tidak menggunakan alat pelampung karena sudah terbiasa seperti itu. "Kalau menuju ke Karang Agung, kalau ombaknya bagus bisa 3 jam," terang Adi.
Dijelaskannya, untuk menghilangkan ras waswas saat di atas perairan, tidak ada jalan kain kecuali dengan mengemudikan secara lambat. "Slow aja, kalau saat nganter penumpang karena kita memang dak dikejar target. Setiap hari cuma sekali bae nganter, idak balik pergi. Baru besoknya lagi balik ke Palembang pas nganter penumpang dari Karang Agung," jelasnya.
Menurutnya, kapal motor speedboat jurusan Palembang ke jalur 14 maupun Karang Agung ataupun sebaliknya, hanya melayani hingga pukul 14.30 WIB. Setelah jam tersebut tidak narik lagi. "Yang ramai pas pagi hari. Kalau malam tidak ada lagi angkutan,” jelasnya.
Tyo, salah seorang sopir kapal motor di Dermaga Sungai Lais mengatakan, ia sebenarnya memiliki alat pelampung, tapi hanya beberapa saja ketika berlayar. Tapi tidak memadai bagi jumlah penumpang yang setiap harinya rata-rata hingga 30 orang. Bahkan, seringkali tidak dibawa saat berlayar.  “Mau apa lagi, memang seperti itu karena sudah terbiasa tidak dengan membawa pelampung. Aman-aman saja, walaupun ada ketakutan kalau tidak ada cadangan pelampung,” ujar Tyo.
Sementara itu, Maryanto, salah satu warga yang biasa menggunakan jasa speedboat mengaku khawatir dengan tidak adanya pelampung dan alat keselamatan lainnya saat berlayar. “Selama ini saya sudah bertahun-tahun menggunakan jasa kapal motor cepat atau speedboat, tapi aman-aman saja. Mungkin karena aman-aman saja inilah membuat sopir kapal tidak menyediakan pelampung,” terang warga Desa Daya Utama, Kecamatan Muara Padang, Kabupaten Banyuasin ini. 
“Saya sendiri kadang tidak terpikir kalau kapal motor itu memang harus punya persediaan pelampung. Karena selama ini saya belum pernah mengalami kondisi yang membuat kapal mengalami kecelakaan,” jelas Maryanto yang berprofesi sebagai guru ini.
Untuk menuju ke Palembang, Maryanto menggunakan speedboat dengan jarak tempuh dua jam saja. Apalagi satu-satunya jalur cepat yang bisa ditempuh menuju ke Palembang ialah melalui jalur sungai. “Dengan adanya kejadian kapar motor yang mengalami kecelakaan, maka ke depannya harus lebih hati-hati, sebaiknya setiap penumpang juga ikut menegur sopir jika terlalu ngebut, terutama saat ombak pasang,” tukasnya.
Rina, salah seorang pengguna jasa kapal motor jenis speedboat mengaku ngeri dengan kejadian yang menimpa kapal motor yang menelan korban jiwa. Kebanyakan kapal motor menabrak benda keras yang membuat kapal oleng dan terbalik. “Saya mau menaiki speedboat yang sopirnya sudah saya kenal karena kalau sudah kenal kita tahu karakter sopirnya, apa dia suka ngebut atau slow dan mengatur ritme kecepatan kapal,” pungkasnya. (roz/ce2)
 
Seperti yang baru-baru ini menimpa speedboat Fahri Aziz di perairan di Sungai Kenten, Kecamatan Tanjung Lagi, Kabupaten Banyuasin, Selasa (17/2), yang mengakibatkan 7 korban tewas karena terbalik setelah menabrak sampah jenis kayu yang bertumpuk.