MUSI RAWAS – Pencarian tiga korban hanyut di Sungai Kelingi, tepatnya wilayah Dusun Seriang 8, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, membuahkan hasil. Setelah satu hari satu malam, dua korban ditemukan mengambang di pinggir sungai.
Keduanya, Reza (4) dan Alif (10 bulan). Jasad kakak adik itu ditemukan sekitar pukul 04.13 WIB, kemarin (23/3). Tubuh Reza ditemukan di pangkalan perahu Dusun Seriang, sedangkan Alif tersangkut ranting di lubuk keramat, Desa Lubuk Rumbai.
Hingga sore kemarin, tim gabungan BPBD dan Basarnas serta pihak kepolisian bersama masyarakat masih terus melakukan pencarian. Korban yang belum ditemukan, Yensi (28), yang dua hari lalu tenggelam bersama kedua anaknya. Sedang Mori, suami korban yang juga ayah kedua bocah, selamat.
Keluarga Yensi menuding banyak kejanggalan dalam kasus ini. Saat kejadian, air sungai yang lebarnya 40 meter itu sedang surut. Selama menyadap karet, tidak pernah para korban melintasi sungai tersebut.
Alasan Mori mengajak istri dan kedua anaknya lewat sungai untuk berobat dianggap tidak logis. “Kakak korban sempat emosi karena ada kejanggalan,” kata Ema, tetangga Yensi.
Jenazah Reza dan Alif kemarin sudah dimakamkan di pemakaman umum RT 03, Kelurahan Muara Beliti, pukul 11.00 WIB. Keluarga berharap jasad Yensi segera ditemukan. Diketahui, Yensi merupakan anak bungsu dari pasangan Hatta dan Enap. Dia janda beranak satu yang dinikahi Mori sekitar 1,5 tahun lalu. dari pernikahan itu, Yensi melahirkan Alif.
Menurut Ema, warga tidak mengetahui secara pasti kronologis kejadian lantaran banyak isu yang berkembang seputar kasus itu. "Kita tunggu sajalah, biar kepolisian yang memprosesnya," timpalnya.
Camat Tuah Negeri, Henri membenarkan adanya dugaan kejanggalan dalam kasus
tersebut. Sampai saat ini, perahu yang dinaiki para korban belum ditemukan. Kepala Pelaksana BPBD Mura, ‎Paisol menuturkan, tim menggunakan sejumlah peralatan selam serta perahu karet untuk melakukan pencarian. Medan pencarian di lokasi dirasa cukup berat karena banyak bebatuan dan palung sungai.
Pihaknya menggunakan sistem manuver dan berusaha membuat ombak buatan untuk mengambangkan jasad korban ke permukaan air. Kapolsek Muara Kelingi, AKP Syarifudin mengungkapkan, pihaknya sudah memulangkan Mori ke Lubuklinggau, suami Yensi. Yang bersangkutan tidak ditahan.
"Untuk sementara kami simpulkan kasus ini kecelakaan murni. Tapi terus diselidiki,” ucapnya. Diwartakan sebelumnya, saat kejadian Mori mengajak istri membawa kedua anak mereka berobat. Reza, anak sulung mereka menderita penyakit bisulan. Naik perahu, mereka pun menyeberangi sungai. Belum mencapai tepian, perahu karam. Mori selamat, istri dan dua anaknya tenggelam.(cj13)

PALI - Lagi-lagi temuan ular piton kembali membuat heboh warga Bumi Serepat Serasan. Tak seperti sebelumnya, kali ini ular yang dikenal dengan lilitannya ini ditemukan, Davis (35), warga Desa Persiapan Dewa Sebane, Kecamatan Talang Ubi, Kabupaten Penukal Abab lematang Ilir (PALI).

Informasi yang berhasil dihimpun, penemuan ular yang memiliki panjang sekitar sembilan meter ini, pertama kali ditemukan Rabu (22/3) sekitar pukul 22.30 WIB, saat Davis sedang asik mencari ikan di aliran sungai yang berada tak jauh dari tempat tinggalnya, bersama kedua rekannya.

Disanalah, dirinya langsung mencoba menangkap ular tersebut dengan peralatan seadaanya. Dengan cara bergotong royong membawa ular tersebut ke rumahnya. Warga yang mengetahui itu langsung beramai-ramai mendatangi kediamannya lantaran penasaran ingin melihat ular tersebut.

"Mereka mencari ikan semalam, tapi ketika menyelusuri sungai,melihat adanya seekor ular piton sedang berada di pinggiran sungai," ungkap Kepala Desa Panta Dewa, Suwandi, yang bersebelahan dengan desa kediaman Davis ini, Kamis (23/3).

Dijelaskanya, untuk menangkap ular tersebut, ketiga warga tersebut tidak mengalami kesulitan.‎ (ebi)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (24/3)

 

MUARA ENIM - Setelah tenggelam di Sungai Enim di Desa Sukaraja, Kecamatan Tanjung Agung sejak Minggu (19/3) pukul 06.00 WIB, jenazah Heriwan ditemukan dalam keadaan tewas. Jasad Heriwan baru ditemukan di aliran Sungai Enim di Desa Lebak Budi, Kecamatan Tanjung Agung, Rabu (22/3) pukul 07.00 WIB.

Jasad korban Heriwan saat dievakuasi.
Jasad dalam keadaan luka bagian dada setelah ditusuk dan didorong sepupunya sendiri Mahartoni (48) ke sungai. Dua warga setempat yang menemukan jasad korban adalah Firman dan Hidayat saat akan mandi di pangkalan mandi Desa Lebak Budi.

"Kami melihat ada mayat tertelungkup yang mengambang dan berputar di pusaran air di Sungai Enim Desa Lebak Budi," kata Firman.

Kemudian keduanya langsung memanggil Herison, kepala dusun (Kadus) II Desa Lebak Budi. Kadus yang menerima laporan, langsung menghubungi Kades dan Polsek Tanjung Agung dan tim SAR yang dibantu masyarakat langsung melakukan evakuasi jenazah korban. Lalu korban langsung dibawa ke Rumah Sakit Bukit Asam untuk dilakukan visum et repertum.

Kapolres Muara Enim AKBP Leo Andi Gunawan melalui Kasubag Humas AKP Arsyad dan Kapolsek Tanjung Agung AKP Iwan Gunawan mengatakan, jenazah korban sudah divisum. Korban tewas dalam keadaan luka tusuk dan tenggelam di sungai.

"Kita sudah menahan tersangka Mahartoni,"ujar Arsyad. (roz)

MUSI RAWAS - Tiga dari empat orang warga Dusun 8 Seriang, Desa Petunang, Kecamatan Tuah Negeri, Kabupaten Mura hilang tenggelam dialiran sungai Kelingi setelah perahu yang dinaiki mereka diduga bocor, Rabu (22/3) sekitar pukul 09.00 WIB.

Mereka satu keluarga yakni Mori (30), Yensi (28), Reza (4) dan Alif (10 bulan). Mori, sang suami selamat. Sedangkan istrinya yakni Yensi, Reza dan Alif hingga kemarin sekitar pukul 17.30 WIB belum ditemukan. Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mura dibantu warga terus melakukan penyisiran serta pencarian dilokasi.

"Pada saat ketiga korban bersama dengan suami korban akan ke dusun dari kebun dengan menggunakan perahu biduk, tiba-tiba perahu biduk yang digunakan terisi oleh air, bocor di bagian belakang," kata Kapolres Mura, AKBP Hari Brata melalui Kapolsek Muara Kelingi, AKP Sarifudin.

Mengetahui perahu tersebut terisi air, suami korban melompat dari perahu untuk mendorong perahu yang digunakan ke tepi sungai. Lalu melihat suaminya melompat ke sungai, istri korban ikut melompat dengan menggendong anaknya yang berumur 10 bulan. Melihat ibunya meloncat, anaknya yakni Reza juga ikut meloncat.

"Diduga tidak bisa berenang, istri korban berpegangan di baju suaminya. Tidak lama kemudian suaminya mengetahui kalau istri dan kedua orang anaknya sudah tidak ada lagi, tenggelam dibawa arus," jelasnya.

Kemudian suami korban berenang ke tepi sungai untuk menyelamatkan diri dan meminta pertolongan. Lalu sekitar pukul 11.30 WIB tim dari BPBD Kabupaten Mura tiba di TKP dan proses pencarian hingga pukul 18.30 WIB tadi  masih berlangsung. (wek)

Baca selengkapnya di harian Sumatera Ekspres Kamis (23/3).

 

MUARA ENIM-- Dua pria yang masih satu keluarga terlibat perkelahian di pinggir Sungai Enim, Minggu (19/3) pukul 06.00 WIB. Kejadian tepatnya di pangkalan pemandian di Desa Sukaraja, Kecamatan Tanjung Agung, Muara Enim.  Keduanya masih saudara sepupu yakni Mahartoni (48), dan Heriwan. Keduanya warga Kampung II, Desa Sukaraja Kecamatan Tanjung Agung. Akibatnya, Heriwan tenggelam di Sungai Enim setelah ditusuk dengan pisau secara membabi buta oleh Mahartoni.

Bermula ketika Heriwan mandi di pangkalan pemandian Sungai Enim Desa Sukaraja. Tidak lama kemudian datanglah Mahartoni. Keduanya bertemu di pangkalan mandi. Lalu terjadi ribut mulut sehingga terjadi perkelahian fisik. Pada saat perkelahian terjadi di pinggir sungai, tersangka yang membawa sebilah pisau menghujamkannya ke tubuh korban berkaki-kali. Diduga korban terjatuh ke dalam sungai setelah ditusuk dengan sajam. Sampai saat ini belum diketahui kondisi korban dan korban belum ditemukan. Anggota Polsek Tanjung Agung masih melakukan pencarian terhadap korban yang tenggelam di Sungai Enim.

Kasubag Humas Polres Muara Enim AKP Arsyad didampingi Kapolsek Tanjung Agung AKP Iwan Gunawan mengatakan, pihaknya sudah melakukan olah TKP dan pemeriksaan tersangka dan saksi-saksi."Pelaku atas nama Mahartoni ditangkap di rumahnya untuk dimintai keterangan lebih lanjut,"ujar Arsyad.

Dijelaskan Arsyad, berdasar pemeriksaan tersangka, tindak pidana penganiayaan terjadi karena pelaku dan korban sering bertengkar. Selama ini korban dan pelaku tinggal satu rumah yang dibagi dua. (roz)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (21/3). 

 

MUARA BELITI - Warga Desa Sri Penganten, Kecamatan STL Ulu Terawas, Kabupaten Musi Rawas (Mura), dambakan akses penghubung keluar masuk di wilayahnya. Warga mengaku sampai saat ini masih kesulitan, karena hanya bisa mengandalkan jalur sungai dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam sebagai akses utama.

Rizal, warga Desa Sri Penganten menuturkan, masyarakat di desanya saat ini masih terisolir karena belum ada akses jalan penghubung di desa mereka dengan wilayah Kecamatan di STL Ulu Terawas. Warga berharap, pemerintah secepatnya membangun jalan, sehingga pertumbuhan ekonomi meningkat.

"Rata-rata di sini kami banyak yang petani karet, untuk membawa hasil perkebunan atau keluar masuk desa kami cuma menggunakan perahu ketek. Kalau bisa, saya minta kepada pak bupati biar dipercepat pembangunan jalan," kata Rizal, Minggu (19/3).

Selain mengeluhkan akses penghubung, warga juga mengeluh karena belum adanya aliran listrik dari PLN yang masuk ke pemukiman. Untuk penerangan, warga terpaksa mengandalkan genset. "Masih pakai genset pak, listriknya belum masuk," timpalnya. (cj13)

JAKARTA – Impian Indonesia untuk mencapai akses universal 100 persen air minum, 0 persen pemukiman kumuh dan 100 persen stop bebas buang air besar sembarangan pada 2019 masih jauh dari angan. Hingga Maret 2017 sendiri, dari data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) masih ada 20,761 juta KK yang belum memiliki akses sanitasi alias tidak punya jamban. Akibatnya, buang air sembarang ini pun tak terelakkan.
Bila dibreakdown lagi, dari angka 20,761 juta KK tersebut paling banyak disumbang oleh Provinsi Papua dan Papua Barat. Di Papua, baru 15,59 persen warga yang memiliki akses sanitasi yang baik. Tak jauh beda, di Papua barat pun baru 22,23 persen warga buang air besar (BAB) dengan akses yang mumpuni. Kondisi ini jauh berbeda dengan wilayah Jogjakarta, yang warganya sudah 99,73 persen memperoleh akses sanitasi yang baik.
Kendati begitu, Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes Imran Agus Nurali menampik bila kebiasaan buang air sembarang ini hanya terjadi di pedesaan. Sebab, daerah perkotaan seperti DKI Jakarta pun masih dijumpaik hal yang sama. ”Masih ada warga yang buang air sembarangan, seperti di sungai,”ujarnya di Jakarta, kemarin (17/3).
Namun bedanya, permasalahan di perkotaan sejatinya lebih mengarah pada sistem sanitasi yang kurang baik. Yakni, jarak antar jamban yang terlalu dekat, baik dengan jamban milik tetangga ataupun dengan sumur resapan.”Kalau tidak, kotoran manusia masih tetap di buang ke sungai meski ada jamban. Akhirnya menyebabkan kualitas air pun tidak sehat karena tercemar lalu dikonsumsi,” ungkapnya.
Akibatnya, berbagai ganguan kesehatan pun mengancam masyarakat. Mulai dari diare, cacingan, hepatitis, tifus hingga stunting (kerdil). Potensi stunting ini jadi salah satu yang paling mengkhawatirkan. Biasanya, resiko ini terjadi pada anak sejak masih dalam kandungan. Ibu yang tengah hamil tidak memiliki akses sanitasi yang baik. Kemudian, terserang E. coli hingga menyebabkan diare. Dalam jangka panjang, E.coli terus berkembang hingga menyebabkan diare kronis.
”kalau sudah kronis, diare yang kecil-kecil dalam waktu lama dikhawatirkan terjadi kerusakan dinding usus,” jelasnya. Jika sudah begitu, tentu menggangu penyerapan zat gizi makanan. ”Dikasih zat gizi macam-macam pasti akan keluar. Lalu terjadi ganguan tumbuh kembang balita dan menyebabkan stunting” sambungnya.
Masalahnya, stunting karena kekurangan gizi ini berbeda dengan genetic. Bila sudah stunting, maka kemungkinan besar akan berpengaruh pada intelektual anak. Dari data riskesdas 2013 sendiri, jumlah anak stunting di Indonesia mencapai 29 persen riskesdas.
Imran menjelaskan, sebetulnya banyak factor yang menyebabkan banyak warga masih buang air sembarangan. Akses kepemilikan jamban tidak berdiri sendiri. Ada factor lain seperti masalah geografis, kesadaran hidup bersih yang masih rendah, dan ketersediaan air bersih yang kurang. ”Kalau punya jamban tapi tidak ada air bagaimana. Kolaborasi antar kementerian/ lembaga ini memang sangat diperlukan,” tuturnya.
Pihaknya sendiri tengah melakukan pendekatan dengan metode pemicu. Yakni, memicu warga untuk tidak BAB sembarangan dengan menimbulkan rasa jijik. Biasanya, warga akan dikumpulkan dan diberi penjelasan soal alur resapan air. warga juga diperlihatkan secara langsung bagaimana kotoran manusia yang direndam dalam air. ”intinya kita picu untuk butuh jamban. Kemudian, kita giring untuk mau berperilaku hidup bersih dan memiliki sanitasi yang baik,” jelasnya.
Selain itu, Kemenkes tengah menggalakkan pelatihan untuk wirausaha pembuatan jamban berbasis masyarakat. Jamban buatan warga ini menyasar masyarakat miskin yang merasa tak mampu membeli jamban yang ada. ”kita latih membuat jamban. Kita pinjamkan cetakan jamban di puskesmas. Ini sudah berjalan di sejumlah daerah, seperti Maumere. Jamban dijual Rp 75 ribu dan tahan dua tahun,” ungkapnya. Tahun ini, untuk program sanitasi total berbasis masyarakat ini Kemenkes menganggarkan sekitar Rp 220 Miliar.
Perwakilan dari USAID IUWASH PLUS Alifah Lestari mengungkapkan, setiap tahunnnya lebih dari 6 juta ton kotoran manusia dibuang langsung hingga mengakibatkan air tercemar. Akibatnya, 100 ribu anak Indonesia meninggal karena diare dan 120 juta kejadian penyakit menyerang tiap tahunnya. ”Pemerintah harus kerja keras untuk bisa menuntaskan masalah air bersih ini,” ujarnya ditemui dalam kesempatan yang sama.
Menurutnya, pendekatan terhadap masyarakat harus dilakukan massif. Bukan hanya oleh Kemenkes namun juga kementerian/lembaga terkait. Seperti dari PU yang memberikan pengertian soal pentingnya kuras tinja pada septic tank di rumah. ”Sebab, banyak masyarakat yang justru bangga saat belum pernah kuras septic tank. Mikirnya, aman. Padahal bisa jadi resapannya buruk sehingga sudah meluber kemana-mana,” tandasnya. (mia/air)

 

LUBUKLINGGAU - Korban tewas terseret arus saluran pembuangan air (siring) yakni Rina (34), Ibu rumah tangga (IRT), warga Gg Bambu, RT 01, Kelurahan Senalang, Kecamatan Lubuklinggau Utara II, Jumat (17/3) sekitar pukul 09.00 WIB ditemukan tim tagana yang dibantu warga sekitar setelah seharian pasca kejadian melakukan penyisiran di Sungai Kelingi.

Korban merupakan guru honor SDN 34 Petanang itu, ditemukan tewas dengan posisi terlentang setelah terseret arus air dari siring tempat kejadian perkara (TKP) sejauh 200 meter hingga kealiran Sungai Kelingi, Kamis (16/3) sekitar pukul 18.00 WIB. Tim tagana beserta warga menemukan korban dibawah jembatan Batu Urip yang berjarak sekitar 1 km dari TKP.

"Mulai pukul 06.00 WIB melakukan penyisiran, jam 09.00 WIB ditemukan dibawah jembatan Batu Urip. Rina, guru honor di SD 34 Petanang dalam keadaan sudah meninggal posisi terapung dipinggir," kata Kapolres Lubuklinggau, AKBP Hajat Mabrur Bujangga melalui Kapolsek Lubuklinggau Utara, AKP Diaz.
 
Hingga dengan hari ini, proses penyisiran di aliran Sungai Kelingi masih terus berjalan guna melakukan pencarian terhadap satu korban lagi yang merupakan anak bungsu dari almarhumah yakni Irfan (5). Sebagaimana diketahui, almarhumah saat kejadian berusaha menolong Irfan yang terpeleset ke siring. Namun almarhumah ikut teseret bersama dengan anaknya itu. (wek)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Sabtu (18/3). 

 

MUARA ENIM-- Warga Desa Karang Sari, Kecamatan Lubai Ulu, Muara Enim dihebohkan dengan penemuan orok bayi berumur sekitar empat bulan.Orok bayi berjenis kelamin perempuan tersebut ditemukan di sungai kecil di Desa Karang Sari, Kamis (16/3) pukul 09.30 WIB. Jasad bayi tersebut sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Warga yang menemukan bayi, Dedi Ardiansah alias Enjel (20), seorang pekerja salon kecantikan mengatakan, awalnya dia akan mandi di sungai kecil. Lalu dia terkejut karena melihat di dalam air dekat gorong-gorong sungai kecil di Desa Karang Sari ada orok bayi tersebut. Tak ayal dia tidak jadi mandi dan memberitahu pada warga setempat.

"Lalu saya memberitahu kepada warga sekitar, Pak Edi (50) yang kemudian melaporkan kepada Kepala Desa (Kades) Karang Sari, Yubendri Antoni (45),"ujar Dedi.

Lalu Kades Karang Sari bersama Kapolpos Lubai Ulu mendatangi TKP.

"Diperkirakan orok dibuang oleh seorang perempuan atau ibu yang mengandung, tapi belum diketahui siapa pelakunya,"ujar Kades Yubendri. (roz)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (17/3). 

 

KAYUAGUNG - Bupati OKI, H Iskandar SE meninjau ratusan rumah yang terendam banjir di Desa Pematang Panggang, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Dalam kunjungannnya, Bupati OKI H Iskandar, memberikan semangat kepada warga agar tetap bersabar.

"Saya datang untuk memberikan semangat kepada warga agar mereka bisa sabar, dibalik musibah banjir ini, pasti ada hikmahnya, setelah ini kita harapkan ikan di sungai bertambah, kemudian tanah menjadi subur," kata Iskandar.

Menurutnya, pemerintah telah memberikan bantuan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. "Kita bantu pos kesehatan, tenda untuk menampung warga jika ingin mengungsi sementara, kemudian kita bantu bahan makanan, kita berharap air cepat surut, sehingga masyarakat bisa beraktifitas seperti biasa," ujarnya.

Sementara warga di hadapan bupati, mengaku tetap bertahan di rumah untuk menjaga barang-barang berharga yang ada dirumah.

" Kami tetap di rumah pak, kalu untuk tidur kami bisa bawa perahu masuk ke dalam rumah," kata salah satu warga yang rumahnya terkena luapan banjir. (gti)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (17/3). 

 

Halaman 1 dari 22

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca