TEBING TINGGI - Pemilik toko yang melakukan bongkar muat barang dagangan di pinggir Jalan Abubakardin, kawasan Pasar Tebing Tinggi, kerap kali membuat jalan Lintas Tengah Sumatera (Jalintengsum) tersebut mengalami kemacetan.

Pantauan koran ini, bukan hanya satu toko, tapi beberapa toko yang melakukan bongkar muat barang pada saat jam sibuk dan padat kendaraan, alhasil menyebabkan kemacetan cukup panjang.

Salah seorang warga Tebing Tinggi, Risman (30) mengatakan, dirinya sering kesal dengan truck yang melakukan bongkar muat di pinggir jalan yang beroperasi pada saat jam padat kendaraan.

"Kadang jam 9 pagi sudah bongkar muat, jalan jadi tambah macet. Apalagi kendaraan yang cukup besar, ditambah pedagang di bahu jalan, ada parkir kendaraan juga, jalan tambah sempit," cetusnya. 

Dirinya berharap kepada pemerintah atau dinas yang terkait agar memberikan tindakan tegas kepada para pemilik kendaraan atau pihak toko yang melakukan bongkar muat barang di jalan terutama di siang hari. (eno)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (21/3). 

 

TEBING TINGGI - Harga cabai rawit di sejumlah pasar di Kabupaten Empat Lawang kembali mengalami kenaikan. Saat ini harga cabai rawit mencapai Rp85 ribu per kilogram (Kg) dan sebelumnya hanya Rp65 ribu per Kg. Kenaikan harga cabai menjadi keluhan masyarakat terutama para Ibu Rumah Tangga (IRT).

"Cabai ini memang menjadi kebutuhan pokok untuk didapur. Jika harganya terus naik kami sulit untuk mengatur keuangan. Kenaikannya pun mencapai sekitar Rp20 ribu," ungkap Rina, salah seorang IRT di Kecamatan Tebing Tinggi.

Menanggapi hal ini, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Empat Lawang Rudianto mengaku, jika pemerintah tidak bisa ikut menstabilkan harga seperti cabai dan bawang.

"Intinya kalau yang langsung dari hasil tadi seperti cabai, bawang, kami (pemerintah, red) tidak bisa menstabilkan harga di pasar," kata Rudianto.

Penyebab kenaikan harga itu, jelas Rudianto, jika permintaan suatu barang meningkat sedangkan stok barang sedikit. Tentunya harga suatu barang itu mengalami kenaikan yang cukup tinggi, begitu pun sebaliknya. (eno)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (17/3). 

LUBUKLINGGAU - Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperi) Lubuklinggau hari ini (15/3) melaksanakan pengecekan ke sejumlah penjual saos dan kecap di pasar Bukit Sulap dan distributor barang itu di Lubuklinggau. Pengecekan dilakukan mulai pukul 08.30 WIB hingga pukul 09.30 WIB.

"Alhamdulillah tidak ada ditemukan saos dan kecap yang tidak berlabel setelah kita lakukan pengecekan," kata Kepala Disdagperi Lubuklinggau, H M Hidayat Zaini.

Menurutnya, pengecekan tersebut guna memastikan tidak adanya saos dan kecap illegal yang beradar di Lubuklinggau. Terutama terkait dengan temuan beberapa waktu lalu, yang mana beberapa merk saos dan kecap ilegal digrebek BP POM di Tangerang.

Lebih lanjut, hasil pengecekan timnya dilapangan kemarin tidak menemukan adanya produk ilegal yang dumaksud.

"Ada saus berbungkus plastik transparan, tapi produk lombok cabe perusahaan dari Lampung bukan seperti yang di Tangerang itu. Jadi itu layak untuk dijual," bebernya. (wek)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (16/3). 

 

MUARADUA– Makin maraknya pedagang kaki lima (PKL) yang menggelar dagangan di sepanjang jalan sekitar Pasar Tradisional Banding Agung, Kelurahan Bandar Agung,  dianggap mengganggu jalan bagi pengunjung wisata Danau Ranau. Tak mau keberadaan pedagang makin membuat kondisi pasar semrawut, Camat Banding Agung turun tangan langsung menertibkan para pedagang kaki lima agar kembali menempati lokasi los yang telah tersedia di dalam pasar.

Penertipan para pedagang kaki lima yang itu dilakukan Camat Banding Agung, Samsyul Basri SSos MM di dampingi langsung unsur muspika dan Kepala Pasar, Agus Cahyono. Penertiban sendiri tidak mendaptkan perlawanan melainkan berjalan aman dan tertib. Para pedagang mau pindah dari lapak di tepi jalan karena lokasi pasar yang disediakan tetap strategis dan masih mudah dijangkau.

Dalam penertiban itu, Camat Banding Agung meminta para pedagang kembali menempati lokasi pasar inpress, terkecuali jika kondisi pasar inpres tidak mampu menampung para pedagang, maka para pedagang boleh berdagang di sisi jalan.

“Hanya saja tetap memperhatikan lingkungan dan sarana jalan umum jangan sampai mengganggu lalu lintas,”ujarnya.

Basri SSos MM menjelaskan, penertiban dilakukan karena keberadaan pasar Banding Agung yang terletak langsung di Tepi Pantai sudah mengganggu pengguna jalan. Bukan saja itu, dampak aktivitas pasar itu terhadap lingkungan membuat tepian danau menjadi kotor.  (dwa)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (15/3)

 

PALEMBANG – Operasional Pasar Talang Kelapa diperkirakan bakal molor. Ini setelah pasokan listrik dan air masih menjadi kendala. Belum lagi, proses penunjukan los yang akan dilakukan melalui sistem undian bagi pedagang, yang sampai kini belum juga dilakukan.

Hal ini diungkapkan oleh Walikota Palembang Harnojoyo, melalui Asisten II, Darma Budhy, usai rapat pengundian di Gedung Setda Kota Palembang Senin (13/3).

“Makanya kita minta PD Pasar untuk segera selesaikan agar pengundian bisa dilakukan minggu depan,”katanya.

Lebih jauh, Budhy mengungkapkan pengundian ini nantinya akan dilakukan secara transparan sehingga tidak ada rasa iri diantara pedagang terkait posisi mereka saat berjualan. Hal ini (pengundian) juga bertujuan menepis isu adanya jual beli lapak.

“Akan diundi langsung oleh Wawako, Ibu Fitrianti Agustinda. Sebab ini dilakukan secara transparan. Tidak ada itu juga beli,” tegasnya.  (aja)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (14/3). 

 

MUSI RAWAS-Kendati sudah rampung dibangun, lapak pasar baru B Srikaton, di Kecamatan Tugumulyo, Kabupaten Musi Rawas (Mura), nampak terbengkalai. Pasalnya, hingga saat ini tidak ada transaksi jual beli di lapak baru dan pedagang lebih senang menempati lapak mereka di pasar lama.

Upaya peningkatan kualitas transaksi pasar di kabupaten Mura, nampaknya belum maksimal. ‎Kendati pemerintah sudah mengeluarkan anggaran cukup besar untuk membangun fasilitas pasar. Namun fasilitas tersebut hingga kini dibiarkan terbengkalai dan tidak dimanfaatkan.

Robil, pedagang di pasar B Srikaton, Kecamatan Tugumulyo yang sempat dibincangi menuturkan, pembangunan lapak baru di pasar B Srikaton sebetulnya sudah rampung sejak satu tahun lalu, tapi memang tidak ditempati oleh para pedagang. Alasannya, banyak konsumen yang belum mengetahui jika sudah ada lapak baru tersebut dan pembeli lebih sering berbelanja di Lapak pasar lama ketimbang di lapak pasar baru.

"Sebetulnya kami mau pindah ke belakang karena tempatnya bagus dan tidak becek, di sana sepi pengunjung. Dari pada dagangan kami tidak laku terjual, lebih baik kami berjualan di sini saja dan tidak pindah ke sana," katanya, Rabu (8/2). (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (9/3). 

LUBUKLINGGAU - Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Disperindagsar) Lubuklinggau menginstruksikan petugasnya untuk mengawasi dan terjun langsung kelapangan memantau peredaran saus dan kecap di sejumlah pasar tradisional dan distributor.

Kepala Disperindagsar Lubuklinggau, M Hidayat Zaini mengatakan hal itu dilakukan menyikapi adanya penggerebekan perusahaan pembuatan saus dan kecap di Tangerang beberapa hari lalu yang diduga peredarannya bernomor reegistes fiktif.

"Sudah saya perintahkan untuk turun ke pasar memantau peredarannya. Jangan sampai ada saus dan kecap ilegal yang beredar di Lubuklinggau, karena itu berbahaya bagi masyarakat kita," jelasnya.

Sepengetahuan pihaknya, BPOM menemukan saus dan kecap tanpa izin edar atau bernomor register fiktif untuk 37 merk saus dan kecap. Itu diantaranya sambal pedas, sambal SAB, sambal SMB dan kecap benteng cap topi.

Ditempat lain, Kasi pengawasan Disperindagsar Lubuklinggau Zon Maryono menjelaskan pihaknya saat ini tengah berkoordinasi dengan Dinkes dan Pol PP. Koordinasi itu dilakukan untuk melakukan pengawasan dan pemantauan ke pasar-pasar.

"Kita segera turun melakukan pengecekan. Termasuk ke warung bakso, kita cek juga nanti," ujarnya. (wek)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Rabu (8/3). 

PALEMBANG – Seiring perkembangan teknologi yang pesat, kebutuhan jaringan internet untuk komunikasi menggantikan peran serta telepon dan short massage sistem (SMS). Oleh karena itu, provider atau penyedia jasa telekomunikasi berlomba untuk menyediakan jaringan terbaik dan stabil, seperti halnya XL.

General Manager PT XL Axiata Southern Sumatera, Rudi Rahman Hidayat mengatakan, perkembangan bisnis telekomunikasi terlampau pesat, melebihi dari prediksi. Jika dulu perkiraan masa komunikasi telepon (voice) baru akan berakhir di 2020, namun pada kenyataannya
saat ini saja penggunaan voice sudah sangat minim.

“Di kami, revenue pelanggan banyak disumbangsih dari data, apalagi untuk perkotaan. Palembang contohnya 90 persen merupakan pengguna data dan hanya 8 persen voice dan 2 persen SMS,” terangnya bersama tim saat berkunjung ke Graha Pena (Kantor Sumeks Grup), Jumat (3/3).

Rudi mengungkapkan, kondisi saat ini tidak di pungkiri tuntunan perkembangan zaman, sehingga mau tidak mau plan bisnis pun harus banyak diarahkan ke digital. Saat ini fokus XL ke peningkatan jaringan dengan banyak berinvestasi di jaringan U900 untuk 3G dan perluasaaan jaringan 4G dengan fokuske kota, seperti Palembang, Lampung dan Babel, serta di kabupaten kota, yakni Banyuasin dalam tahun ini.

“Big plan bisnis kami lebih digital service,” ujarnya. (cj10)

Oleh:

Rd Muhammad Ikhsan

Kawasan Lemabang pada saat ini berada di kelurahan 3 Ilir kecamatan Ilir Timur II, nama Lemabang berasal dari kata Lemah Abang. Nama yang sama ditemukan juga di kota Indramayu dan Semarang, termasuk pula nama Syekh Siti Jenar yang dikenal dengan Sunan Lemah Abang.

Arti kata Lemah Abang dari bahasa Palembang lama yang identik dengan bahasa Jawa: lemah abang atau tanah merah. Namun dalam percakapan sehari-hari dua kata tersebut bersatu dalam lidah kata yang lebih singkat: Lemabang.
Mirip pelafalan Pasar Tanah Abang di Jakarta, yang justru terdengar di telinga sebagai Tenabang. Sampai tahun 1877 dalam Hoofdplaats Palembang, kelurahan 3 Ilir masih bernama kampung Lemah Abang. Tempat utama Lemabang ini dahulunya di tepian sungai Musi, persis di Kawah Tekurep, makam keluarga Kesultanan Palembang.

Sebenarnya hingga akhir tahun 1970-an di pintu masuk kubah makam utama Sultan Mahmud Badaruddin Jayawikrama beserta empat orang istrinya dan Imam Syayid Idrus al ‘Idrus tertulis “Pesarean Lemabang”, yang dimaksudkan adalah tempat pemakaman keluarga Sultan Palembang.

Nama yang mirip ditemukan juga tidak jauh dari situs ini, yaitu makam Pangeran sedo ing Pasarean di situs keramat Sabokingking. Walaupun makam yang disebut terakhir ini sesungguhnya adalah leluhur priayi Palembang yang dimakamkan di sini.

Dua tempat yang pernah memiliki kemiripan nama tersebut sesungguhnya berbeda. Pasaeran sendiri dari bahasa Jawa kromo inggil, berarti tidur, sebagai penghalusan bahasa bagi raja yang telah mangkat. Namun masyarakat lebih akrab menyebutnya Kawah Tekurep.
Sejatinya tekurep bukan tengkurep. Penamaan spontan ini sehubungan dengan penamaan visual pada bentuk bagian utama berupa cungkup kubah hijau yang menaungi makam utama sang sultan yang mirip kawah dalam posisi terbalik alias tekurep.

Kompleks pemakaman diperkirakan telah ada sejak tahun 1728, sekitar 10 tahun lebih tua waktu pendiriannya dari Masjid Agung Palembang. Menurut Djohan Hanafiah, seorang sejarawan Palembang, pemakaman keluarga sultan ini merupakan bangunan batu pertama di negeri Palembang Darussalam.

Selain bangunan utama kubah Kawah Tekurep, ada beberapa bangunan lain dalam kompleks yang merupakan makam masing-masing keluarga dari anak dan cucu beliau termasuk pula ulama-ulama di Kesultanan Palembang Darussalam.

Dalam sebuah peta lama yang dibuat Belanda ketika hendak menyerang Palembang tanggal 27 Juni 1821 tampak jelas kawasan pemakaman ini dengan keterangan berbahasa Belanda Begraaf Plaatsen der Sultans en Arabieren.

Secara harfiah bisa diartikan sebagai tempat pemakaman Sultan dan keturunan Arab. Keletakan kompleks makam berada persis di tanah tinggi tepian sungai Musi yang saat ini dipisahkan dengan pelabuhan Boom Baru.

Dahulunya sebelum pelabuhan Boom Baru dibangun tahun 1924, di lokasi ini pun merupakan hamparan makam yang luas. Sebagian makam tersebut dipindahkan pemerintah kolonial Belanda ke tempat lain.
Hanya pemakaman aulia Kambang Koci yang dengan kuat dipertahankan oleh dzuriatnya. Lokasi mana hingga saat ini menjelang bulan Ramadan sangat ramai diziarahi dalam rangkaian acara ziarah qubro.

Saat ini, selain menjadi tempat ziarah dan kunjungan religi, secara normatif heritage Kawah Tekurep sejak tahun 2004 oleh Menteri Pariwisata RI telah ditetapkan dalam daftar peringkat satu cagar budaya nasional di Sumatera Selatan. Sejatinya penetapan ini mesti diikuti konsekuensi tanggungjawab yang harus melaksanakan konservasi dan kesungguhan perawatan oleh negara.
Bergeser

Ada kawasan sejarah lain di seputar Lemabang. Dari posisi Kawah Tekurep ke arah timur laut, baik masih di kelurahan 3 Ilir maupun sekitarnya, memiliki nama jalan dari terminologi kesultanan Palembang Darussalam atau pra kesultanan, seperti jalan Sultan Agung, Mangkubumi, Panembahan atau Ratu Sianum.

Untuk nama terakhir sedikit membingungkan, karena nama tersebut tidak dikenal dalam sejarah Palembang, Namun yang ada ialah nama yang terdekat dengan pelafalan nama itu, yakni nama Ratu Sinuhun permaisuri Pangeran sedo ing Kenayan tokoh pengkompilasi UU Simbur Cahaya. Makamnya terletak tidak jauh yaitu di Sabokingking.

Khusus nama Lemabang di era sekarang, tempatnya seperti bergeser. Titik koordinat Lemah Abang yang semula, di masa kini, hanya dikenal dengan nama Kawah Tekurep tersebut. Sedangkan Lemabang, lebih identik dengan daerah sekitar pasar dan simpang empat Lemabang.

Selain itu walaupun awalnya titik semula Lemabang menggunakan nama dari khazanah kesultanan di abad ke-18, mungkin karena daerah yang semula sepi tak berpenduduk, dekat areal tempat pemakaman yang menjadi pasar. Kemudian wilayah ini dikembangkan oleh pemerintah kotamadya di tahun 1950-an dengan membangun pasar dan perumahan rakyat di kawasan Gotong Royong.

Perkembangan pemukiman ini lantas menggunakan nama dengan suasana lain dari kesultanan. Selanjutnya di sudut lainnya yang cukup berdekatan ada nama lorong Manggar, Pasundan, Pasma Putra, Bugis dan nama lainnya yang mencirikan segregasi asal usul suku bangsa yang menetap di sana.

Termasuk pula nama pewayangan seperti jalan Pendawa, lorong Arjuna, Astina, Bima, Nakula, Sadewa. Masyarakat yang mulai meramaikan daerah ini sekitar awal tahun 1960-an tersebut umumnya pada awalnya mencari nafkah sebagai pedagang di pasar Lemabang. (*)

*)Penulis adalah dosen Universitas Sriwijaya

 

MUARA ENIM-- Erik alias Iyek (24), warga Pasar Bari Desa Lingga, Kecamatan Lawang Kidul, Muara Enim diamankan di Polsek Lawang Kidul, Selasa (28/2) pukul 15.00 WIB. Buruh ini melakukan pencurian motor milik Jipi Susanto alias Jefri (22), warga Desa Lebuay Bandung, Kecamatan Merapi Timur, Lahat. Buruh ini mencuri motor Yamaha BG 4807 DY milik korban di dalam kios kamar daging pasar baru Tanjung Enim, Selasa (28/2) pukul 02.00 WIB.

Kejadian tersebut bermula ketika korban terbangun karena kepalanya dilempar batok kelapa oleh orang yang tidak dikenal. Pelaku juga mengajak korban untuk berkelahi. Namun korban berlari guna menghindari perkelahian.Sekitar satu jam kemudian, korban kembali ke kios kamar daging dan melihat motor miliknya sudah tidak ada lagi.  Lalu korban melapor kehilangan motor ke Polsek Lawang Kidul.

Aparat Polsek Lawang Kidul dipimpin Kanit Reskrim Lawang kidul berhasil melakukan penangkapan terhadap tersangka. Kapolres Muara Enim AKBP Hendra Gunawan SIK MSi melalui Kasubag Humas AKP Arsyad mengatakan, tersangka ditangkap saat berada di tempat pengumpul barang rongsokan di pasar baru Tanjung Enim.

"Barang bukti yang diamankan yakni satu unit motor milik korban, sebuah obeng dan tang yang digunakan pelaku dalam pencurian motor,"ujar Arsyad. (roz)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (2/3). 

 

Halaman 1 dari 19

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca