PALEMBANG - Hujan yang mengguyur Palembang, Jumat (17/3) pukul 13.30 WIB, menyebabkan Jl Kolonel H Barlian macet. Padahal hujan tidak terlalu lama. Banjir terjadi di Km 6,5 atau tepatnya di seberang Graha Pena (kantor Sumeks Grup). Tak ayal, kendaraan yang melaju dari arah Sukarami harus berjalan merayap.

Antrean panjang kendaraan terjadi mulai dari Km 8 sampai ke Km 6,5. Kendaraan roda dua dan empat yang akan melintas di titik banjir terpaksa melambat. Akibatnya, terjadi penumpukan kendaraan. Waktu tempuh dari Km 10,5 menuju sampai ke Km 6,5 yang biasa ditempuh hanya dalam waktu 13 menit, terpaksa ditempuh dalam waktu 35 menit.

Iman, salah satu pengendara motor mengaku tidak mengetahui penyebab kemacetan panjang karena banjir yang terjadi di Km 6,5. Padahal hujan yang mengguyur di wilayah Km 6,5 tidak lama. Banjir sudah menggenangi jalan.

"Kalu sudah cak ini, pemerintah harus tanggap. Jangan sampe hal sepele biso nyengsaroke rakyat," kata Iman dengan nada kesal.

Dia berharap pemerintah kota atau pemerintah provinsi cepat tanggap atas fenomena macet yang disebabkan banjir. "Makmamano caronya kalu hujan, idak nyebabke banjir," ujarnya. (dom)

KAYUAGUNG - Bupati OKI, H Iskandar SE meninjau ratusan rumah yang terendam banjir di Desa Pematang Panggang, Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Dalam kunjungannnya, Bupati OKI H Iskandar, memberikan semangat kepada warga agar tetap bersabar.

"Saya datang untuk memberikan semangat kepada warga agar mereka bisa sabar, dibalik musibah banjir ini, pasti ada hikmahnya, setelah ini kita harapkan ikan di sungai bertambah, kemudian tanah menjadi subur," kata Iskandar.

Menurutnya, pemerintah telah memberikan bantuan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. "Kita bantu pos kesehatan, tenda untuk menampung warga jika ingin mengungsi sementara, kemudian kita bantu bahan makanan, kita berharap air cepat surut, sehingga masyarakat bisa beraktifitas seperti biasa," ujarnya.

Sementara warga di hadapan bupati, mengaku tetap bertahan di rumah untuk menjaga barang-barang berharga yang ada dirumah.

" Kami tetap di rumah pak, kalu untuk tidur kami bisa bawa perahu masuk ke dalam rumah," kata salah satu warga yang rumahnya terkena luapan banjir. (gti)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Jumat (17/3). 

 

KAYUAGUNG - Banjir akibat meluapnya Sungai Mesuji di Desa Pematang Panggang, Kecamatan Mesuji berangsur mulai surut. Namun begitu, tim gabungan tetap siaga dan berjaga agar situasi tetap aman dan kondusif.

Diungkapkan Koordinator BNPB OKI, Azhar,bahwa pihak Pemda, kecamatan, TNI dan Polri, Karang Taruna dan Intansi terkait lainnya masih berjaga di posko pengungsian. Selain itu pihak kesehatan juga stand bye di lokasi bila ada warga yang sakit. Begitupun bantuan makanan kepada masyarakat telah didistribusikan.

"Tim gabungan berada di Posko pengungsian. Kita juga melakukan pengecekan ke masyarakat dan mendistribusikan bantuan. Untuk saat ini sebagian warga memilih bertahan dan mengungsi ke rumah kerabat," bebernya, Rabu (15/3).

Tambahnya, Bupati OKI dijadwalkan besok (16/3) akan meninjau korban banjir. Sementara untuk bantuannya telah diberikan.

"Kita berharap kondisi tetap aman dan warga juga tidak panik," ucapnya. (gti)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Kamis (16/3)

MURATARA - Upaya penanganan darurat banjir di Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara terus dilakukan. Sembilan desa dengan jumlah sekitar 3.085 kepala keluarga (KK), mendapat perhatian Pemkab dengan penyaluran bantuan secara bergulir guna membantu masyarakat yang terendam banjir.

Sepekan pasca-terendam banjir, kondisi masyarakat di sembilan desa di Kecamatan Rawas Ilir, mulai berangsur-angsur normal. Sejumlah warga mulai melakukan aktivitas seperti biasa, kendati masih ada sejumlah pemukiman rumah warga yang tergenang air dengan ketinggian sekitar 10 cm.

Wakil Bupati Muratara H Devi Suhartoni menuturkan, kondisi ini sudah semestinya menjadi perhatian khusus pemerintah. Kendati banjir mulai surut, pihaknya tetap menyalurkan bantuan sebagai bentuk kewajiban yang semestinya harus dilakukan cepat. Memang ada beberapa mekanisme yang mesti dilalui, seperti berapa hari warga terendam banjir dan seberapa banyak bantuan yang akan dipersiapkan.

"Kita sudah salurkan bantuan ke 3.085 kepala keluarga yang menjadi korban banjir di sembilan desa. Bantuannya memang ala kadarnya, seperti beras, mi instan, serta perlengkapan darurat. Kami berharap bantuan itu dapat membantu warga, meskipun tidak mencukupi kebutuhan mereka," kata Devi, Minggu (12/3). (cj13)

MARTAPURA - Curah hujan yang tinggi di Kecamatan Belitang III, Kabupaten OKU Timur, terendam, Sabtu (11/3) pukul 22.00 WIB. Yakni Desa Nusa Tenggara dan Desa Nusa Bhakti. Tidak tanggung-tanggung, ketinggian air mencapai satu meter. banjir setinggi satu meter. 

"Pagi ini (12/3) air sudah surut, karena hujan sudah mulai reda. Akibat banjir ini sejumlah ruko dan pemukiman warga dimasuki air  dan menyebabkan kerugian material yang belum bisa dihitung," kata Camat Belitang III Abdul Alim.

Dikatakannya, aktivitas pertokoan di wilayahnya lumpuh total karena banyaknya lumpur yang masuk ke toko dan perumahan warga. "Baru kali ini banjir melanda kita, ini akibat curah hujan yang tinggi," ujarnya. (sal)

PALEMBANG – Hujan deras yang mengguyur Kota Palembang, Kamis (9/3) siang, membanjiri sejumlah titik di kota ini. Jalanan di pusat kota, layaknya venue ski air. Wali Kota Palembang H Harnojoyo, langsung memanggil PT Waskita Karya dan pihak BMKG, Jumat (10/3) pagi.
Kontraktor pembangunan light rapid transit (LRT) itu dihadirkan, terkait temuan sumbatan drainase di Jl Jenderal Sudirman, seputaran Masjid Agung. Didapati karung-karung dalam drainase, berisi pasir dan semen yang mengeras diduga sisa material LRT, menyebabkan aliran air terhambat.
Harno meminta pihak kontraktor, benar-benar mengawasi pembangunan agar tidak memberikan dampak yang merugikan. “Karena pegawai Dinas PU PR, mengangkat tumpukan pasir dari drainase di depan masjid Agung yang jadi penyumbat saat hujan,” ujar Harno, dalam rapat di rumah dinas wali kota, pagi kemarin.
Pihaknya meminta agar drainase ruas jalan utama dibersihkan, setelah pengerjaan. Meski demikian, Harno mengaku tidak akan mencari kambinghitam, material yang diduga diletakkan oknum pegawai LRT tersebut. “Ini maksudnya agar kita bersama bisa cari solusi. Bukan menambah masalah yang ada,” imbuhnya.
Dia dan jajarannya pun tetap bergerak cepat mengatasi permasalahan genangan air yang terjadi. Terutama di saat turun hujan deras. Suami dari Hj Selviana tersebut, kembali mengajak warga untuk terlibat dalam pengawasan kebersihan lingkungan. Apalagi dalam waktu dekat, Kota Palembang akan menjadi tuan rumah Rakornas penanganan sampah.
Tak hanya sumbatan material pembangunan di ruas jalan utama, lanjut Harno, sumbatan sampah rumah tangga juga masih menghiasi saluran dranase di sekitar pemukiman penduduk. “Bagi masyarakat, tentu kita akan terus bersama, gotong royong menjaga kebersihan,” ujar pelopor kebersihan itu.
Dia menekankan keterlibatan masyarakat, melalui peran camat dan lurah agar lingkungan yang berpotensi terjadi genangan air atau banjir bisa dapat minimalisir.
Pengawas Lapangan PT Waskita Karya, Bambang Priambodo, mengakui ada kelalaian yang dilakukan pegawainya di pengerjaan kawasan Masjid Agung. Untuk itu, pihaknya menjanjikan hal ini tak akan kembali terulang. “Akan kami tindaklanjuti. Kami juga akan bersihkan sisa pembangunan yang menumpuk di drainase,” ucapnya.
Sebab, sisa pembangunan tersebut, merupakan partikel semen, pasir yang mengeras ditambah lagi saat terbawa air. Sehingga membuat aliran air tersendat. Lebih jauh, di titik genangan air yang disebabkan pembangunan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas PUPR Kota Palembang.
“Titik mana saja, akan dibuat saluran atau seperti apa, akan kami rapatkan segera,” katanya.
Dari pihak Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Palembang, prakirawan Darah Kasih Hairani, memaparkan saat ini intensitas curah hujan yang mengguyur Kota Palembang termasuk tinggi. Berada di kisaran 300 mm. Hal ini, diprediksi akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan.
“Secara umum, untuk Sumsel memang masih tinggi, termasuk Palembang. Diperkirakan hingga Juli nanti. Namun puncaknya mungkin akhir Maret atau awal April, sehingga perlu diwaspadai,” ujarnya.
Di tempat lain, Wakil Wali Kota Palembang Fitrianti Agustinda, mengajak warga perbaiki lingkungan sebagai kesiapan menyambut Asian Games 2018. Dia berkeliling naik ketek, menghampiri warga di bantaran Sungai Musi. Berangkat dari dermaga Masjid Ki Merogan, menyisir ke sejumlah kawasan SU I, Kamis (9/3) petang.
“Kami menjagak warga untuk terus menjaga kebersihan. Juga nantinya melakukan persiapan karena bantaran sungai ini jadi sorotan,” ucap Fitrianti, yang mengenakan life jackets.
Apalagi katanya, Sungai Musi telah dicanangkan sebagai salah satu destinasi wisata utama di Kota Palembang. Dia berharap, masyarakat tidak lagi melakukan aktivitas-aktivitas yang bisa mencemari Sungai Musi.
Sebab menurutnya, untuk menjadi tuan rumah yang baik bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Melainkan pula ada keterlibatan masyarakat. “Khusus di kawasan tepian Sungai Musi, menjadi sorotan karena punya daya tarik wisata,” bebernya.
Sebelumnya, Pemerintah Kota Palembang memang berencana menata kawasan bantaran Sungai Musi. Bagian belakang rumah yang menghadap sungai, akan diubah. “Bagian depan rumahnya, yang akan menghadap Sungai Musi. Sehingga bisa menghilangkan kesan tak sedap dipandang dari Sungai Musi,” imbuhnya. (aja/air/ce1)

 

PALEMBANG – Sehari pasca-hujan lebat mengguyur Palembang, wali kota Harnojoyo langsung memanggil perwakilan PT Waskita Karya, kontraktor yang menangani pembangunan light rail transit (LRT). Hal ini terkait temuan sumbatan di drainase Jl Jenderal Sudirman, kawasan Masjid Agung. Hal ini disinyalir juga terjadi di beberapa bagian pembangunan lain, sehingga menyebabkan air susah surut pada Kamis (9/3) petang. Sumbatan tersebut berupa karung berisi pasir yang diduga diletakkan oleh pegawai pembangunan LRT.

Oleh karena itu, dalam rapat di rumah dinas wali kota, Jumat (10/3), Haarnojoyo meminta kontraktor untuk benar-benar mengawasi pembangunan agar tidak memberikan dampak yang merugikan. “Ini maksudnya agar kita bersama bisa cari solusi. Bukan menambah masalah yang ada. Karena pegawai PU PR, mengangkat tumpukan pasir dari drainase di depan Masjid Agung yang jadi penyumbat saat hujan,” kata Harnojoyo.

Kendati demikian, pihaknya juga mengaku akan bergerak cepat mengatasi permasalahan genangan air yang kerap terjadi di Kota Palembang. Terlebih saat hujan turun dengan deras. (aja)

MUARA BELITI - Sejumlah anggota DPRD Kabupaten Musi Rawas (Mura), nyaris gagal melakukan reses di Desa Sembatu Jaya, Kecamatan BTS Ulu, Kabupaten Mura. Pasalnya, mobil rombongan anggota DPRD Mura, tidak bisa melintas akibat terjebak lumpur dan kondisi akses jalan rusak parah.

"Parah nian dek, jalannyo ancur kami tejebak lumpur jadi idak biso lewat, padahal nak reses. Wajar kalau warga di Desa Sembatu Jaya ini susah galo. Jalannyo belumpur dalam, jadi susah keluar masuk," keluh Wakil Ketua DPRD Mura I Ismun Yahya, Kamis (9/3).

Setelah melakukan peninjauan langsung ke masyarakat di Desa Sembatu Jaya, DPRD Mura berencana secepatnya memanggil pihak eksekutif dan meminta Pemkab untuk segera membangun dan memperbaiki akses jalan penghubung di Desa Sembatu Jaya, di Kecamatan BTS Ulu.

Terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga Kabupaten Mura H Aidil Rusman menyatakan akibat curah hujan meningkat memang banyak jalan-jalan di wilayah Kabupaten Mura yang mengalami kerusakan. Namun kerusakan jalan itu didominasi oleh jalan provinsi atau jalan negara.

"Untuk jalan kabupaten saya rasa semuanya masih bagus, bagi yang sudah ditingkatkan. Tapi jalan yang belum ditingkatkan seperti Sembatu Jaya memang sekarang masih rusak. Jalan di sana sering terendam banjir," tukasnya. (cj13)

MURATARA-Jembatan setengah jadi di wilayah Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara, nyaris putus diterjang banjir. Jembatan permanen ini mengalami kerusakan cukup parah, karena sebagian pondasi jembayan amblas tergerus aliran sungai.

Luapan banjir yang melanda wilayah Kabupaten Muratara, sudah sering mengakibatkan kerusakan yang cukup parah terhadap sejumlah akses umum yang berada di pemukiman warga. Kali ini banjir mengakibatkan jembatan penghubung antara Desa Pauh, Kecamatan Rawas Ilir dengan Translok, Desa Prabumulih Kecamatan Muaralakitan, rusak.

Junaidi, warga Desa Pauh, menuturkan, jembatan penghubung di wilayah mereka memang belum bisa digunakan secara maksimal, karena belum rampung dikerjakan oleh pihak pemborong.‎ Menurutnya, kerusakan itu terjadi dua hari yang lalu, ketika luapan air sungai Rawas mengalami peningkatan.

"Taludnya jebol karena pondasi jembatan tidak pakai paku bumi, jadi sebagian pondasi jembatan terseret arus," katanya, Senin (6/5)‎.

Warga mengaku menyayangkan kondisi ini, karena pembangunan jembatan itu memakan waktu serta anggaran yang cukup banyak. (cj13)

Baca selengkapnya di Harian Sumatera Ekspres Selasa (7/3). 

 

MURATARA - Bencana banjir tahunan di wilayah Kecamatan Rawas Ilir, Kabupaten Muratara, saat ini semakin meluas. Meningkatnya debit aliran Sungai Rawas diiringi peningkatan intensitas curah hujan, mengakibatkan pemukiman warga di delapan desa mulai terendam. Sebelumnya banjir hanya menggenangi tiga desa di Kecamatan Rawas Ilir. Yakni Desa Mandi Angin, Bingin Teluk, dan Desa Bingin Makmur II.

Namun kali ini banjir semakin menjadi, bahkan merendam lima desa lainnya seperti Desa Tanjung Raja, Bingin Makmur I, Belani, Pauh, dan Desa Batu Kucing.

Informasi yang berhasil dihimpun, ketinggian air  rata-rata 30 cm hingga 2 meter.‎ Warga mengaku belum bisa beraktivitas dan mulai kesulitan air bersih, karena banjir sudah mulai terjadi sejak empat hari terakhir.

Azhari warga Pauh, Kecamatan Rawas Ilir menuturkan, ketinggian air mulai meningkat sejak kemarin (4/3) malam. "Warga banyak diam di rumah, aktivitas masih berjalan tapi cukup terganggu. Banjir paling dalam banyak di lokasi pemukiman warga yang dekat dengan aliran sungai. Banjir di tempat kita ini, cepat naiknnya dan cepat surutnya," kata Azhari, Minggu (5/3).

Menurutnya, warga yang tinggal di sepanjang aliran Sungai Rawas yang ikut terendam banjir mulai kelusitan air bersih. Pasalnya, banyak sumur tanah milik warga maupun aliran air Sungai Rawas tidak bisa dimanfaatkan untuk dikonsumsi karena banjir kali ini bercampur lumpur. (cj13)

Halaman 1 dari 23

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca