Trump-Merkel Akhirnya Bertemu

18 Mar 2017
135 kali dibaca
DIALOG: Presiden AS Donald Trump dan  Kanselir Jerman Angela Merkel  akhirnya bertemu membahas masalah imigrasi kedua negara, kemarin. Foto:Reuters DIALOG: Presiden AS Donald Trump dan Kanselir Jerman Angela Merkel akhirnya bertemu membahas masalah imigrasi kedua negara, kemarin. Foto:Reuters

WASHINGTON – Mundur tiga hari dari jadwal, pertemuan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Kanselir Jerman Angela Merkel berlangsung kemarin (17/3). Oval Office menjadi saksi jabat tangan dan dialog dua pemimpin negara yang berseberangan prinsip mengenai imigrasi tersebut.
Mengajak para petinggi BMW, Siemens, dan Schaeffer, Merkel menegaskan bahwa fokus pertemuan kali ini adalah ekonomi dan perdagangan. Namun, isu tentang Pakta Pertahanan Atlantik Utara alias NATO dan Rusia membayangi tatap muka perdana dua tokoh dunia tersebut.
Media Eropa menyebutnya sebagai pertemuan antara pria paling berkuasa dan perempuan paling berpengaruh di dunia. ’’Kerja sama apa pun harus tetap berlandas nilai-nilai demokrasi, kebebasan, serta penghargaan terhadap hukum dan martabat manusia,’’ tutur Merkel sebelum bertolak ke Gedung Putih.
Kanselir perempuan pertama Jerman itu menambahkan bahwa kerja sama apa pun bisa terjalin asalkan tidak ada diskriminasi warna kulit, agama, jenis kelamin, orientasi seksual, dan asal usul.
Gedung Putih menjadwalkan jumpa pers bersama setelah pertemuan tertutup di Oval Office kemarin. Merkel maupun Trump memilih menghindari isu tentang pengungsi dan imigrasi. Sebab, mereka jelas menganut prinsip yang berbeda. Merkel cenderung pro pengungsi dan Trump antipati. Keduanya berfokus pada hubungan dagang lintas Samudra Atlantik dan pertahanan keamanan sebagai sesama anggota NATO.
Sebelum menginjakkan kaki di Gedung Putih, Merkel banyak belajar tentang Trump. Untuk mengenali taipan 70 tahun tersebut, sang kanselir membaca biografi maupun pidato-pidato Trump. Termasuk artikel lawas tentang presiden ke-45 AS tersebut di majalah Playboy. Pemimpin perempuan yang dikenal pragmatis itu tidak mau bertemu dengan Trump tanpa pengetahuan apa pun tentangnya.
’’Jerman memandang Washington dengan keraguan dan kepercayaan sekaligus,’’ ujar Jeffrey Rathke, pengamat politik pada Center for Strategic and International Studies (CSIS). Sebagai pemimpin de facto Uni Eropa (UE), Jerman punya tanggung jawab besar untuk memastikan kepada AS bahwa organisasi terbesar Benua Biru itu masih solid. Padahal, ancaman perpecahan sedang membuat 27 negara UE –kecuali Inggris– bimbang menatap masa depan.
’’Saya harus bisa menjelaskan, bagi kami, Jerman dan status kami sebagai anggota UE bagaikan dua sisi mata uang,’’ tutur Merkel. Meski Inggris akan meninggalkan UE setelah parlemen dan kerajaan merestui realisasi British Exit (Brexit), dia yakin bahwa UE bakal tetap kuat. Dia juga yakin paham ultranasionalis yang belakangan menggejala di Eropa tidak akan mampu menceraiberaikan UE.
Tentang pertemuan Trump dengan Merkel itu, Jerman tidak banyak berharap. Sebagai teman dekat Barack Obama, Merkel tidak bakal bisa menjalin kemesraan dengan Trump. Sebab, Obama dan Trump adalah dua pemimpin yang jauh berbeda. Dua presiden AS itu mengimani nilai-nilai luhur dan kebijakan yang tidak sama. Merkel pun memilih berfokus pada perekonomian dan pertahanan keamanan.
’’Mereka yang mengenal Kanselir (Merkel, Red) tahu bahwa beliau sangat pandai memenangkan hati lawan bicaranya. Tak terkecuali Trump,’’ jelas Juergen Hardt, politikus asal Jerman. Bahkan, Trump malah diyakini akan minta masukan Merkel tentang Rusia dan Presiden Vladimir Putin. Sebab, kanselir yang fotonya menjadi sampul harian Gunes di Turki dengan judul Frau Hitler itu lebih dulu mengenal Putin.
Sementara itu, anggaran Trump yang diajukan ke Kongres AS masih terus memantik protes. Anggaran yang mengalokasikan sejumlah besar dana untuk bidang pertahanan keamanan dan militer itu membuat sedikitnya 62 lembaga dan program pemerintah terancam mangkrak. Di antaranya, Inter-American Foundation dan Woodrow Wilson International Center for Scholars.
’’Ratusan program dan lembaga harus dieliminasi dari anggaran. Proses ini mungkin akan butuh waktu. Tapi, demikianlah sistem,’’ kata Mick Mulvaney, direktur anggaran Trump. Berbagai lembaga yang selama ini bernaung di bawah departemen-departemen terkait itu bakal kehilangan bantuan dana jutaan USD. (AFP/Reuters/BBC/usatoday/hep/c14/any)

 

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca