Hutan Jangan Terbakar (Lagi)

21 Mar 2017
81 kali dibaca

Oleh: Yan Rafli, S.P*



Dua tahun silam, di Bumi Sriwijaya. Kala itu, kemarau panjang melanda. Hujan sungguh angkuh menyapa bumi. Pohon, daratan, dan rawa-rawa pun mengering. Menghidangkan santapan lezat bagi sesosok monster. Monster berjuluk Si Jago Merah. Bak beruang yang berhibernasi di musim dingin, Sang Monster berhibernasi di musim hujan. Saat kemarau membangunkannya, ia kelaparan dan mengamuk. Jutaan hektar hutan dan lahan habis dilalapnya. Melahirkan bencana pertama, karhutlah, kebakaran hutan dan lahan.

Efek domino dari makan besar sang monster adalah asap. Asap kebakaran dalam massa besar membumbung ke angkasa. Semakin lama semakin pekat. Hingga akhirnya angkasa tak sanggup lagi menampung hasil pembakaran ini. Dan, lahirlah bencana kedua, kabut asap. Atmosfer memutih berselimut asap. Saluran pernafasan terganggu, banyak warga terkena ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut). Pandangan manusia tak sampai 100 meter. Mengganggu lalu lintas.
Kini, diawal tahun 2017. Sang monster masih terlelap. Tak ada pilihan lain. Ia harus di nina bobokan dan tak boleh terbangun. Jika sampai membuka mata habislah kita. Hutan yang kembali bersemi selama kurang lebih setahun ini bakal dibabatnya kembali. Dimusnahkannya berbagai manfaatnya.


Manfaat Hutan

Mengapa kita wajib mati-matian mempertahankan hutan? jawabnya ialah karena esensinya. Hutan sangat bermanfaat bagi kehidupan. Berikut beberapa manfaat hutan dirangkum dari situs nationalgeographic.co.id. Pertama, Pabrik Oksigen. Pohon-pohon yang ada di hutan memproduksi oksigen yang kita perlukan untuk bernafas dan menyerap karbondioksida yang kita keluarkan. Satu pohon dewasa dapan memproduksi oksigen yang cukup untuk bernafas 10 orang selama setahun. Plankton juga produktif menyediakan setengah oksigen Bumi, tapi hutan masih merupakan sumber utama oksigen bagi kita.

Kedua, Rumah bagi Biodiversitas. Hampir setengah dari semua spesies yang dikenal hidup di hutan, termasuk 80 persen dari keanekaragaman hayati di darat. Hutan hujan tropis terutama menjadi rumah yang nyaman bagi berbagai burung langka dan orangutan yang terancam punah. Hutan penuh dengan kehidupan, serangga dan cacing bekerja menutrisi tanah, lebah dan burung-burung menyebarkan serbuk sari dan benih-benih, spesies kunci seperti serigala dan kucing besar menjaga agar populasi herbivora tetap terkendali.

Ketiga, Mencegah banjir dan erosi. Akar-akar pohon berperan penting saat hujan deras, terutama bagi daerah dataran rendah seperti sepadan sungai. Mereka membantu menyerap air hujan dan menahan agar tanah tidak hanyut karena erosi dengan memperlambat aliran air.

Keempat, Menciptakan lapangan pekerjaan. Menurut data PBB, lebih dari 1,6 miliar orang di dunia bergantung pada hutan untuk mata pencaharian mereka. Sekitar 10 juta orang secara langsung dipekerjakan dalam pengelolaan dan konservasi hutan. Hutan juga berkontribusi menciptakan lapangan pekerjaan melalui produksi kayu dan produk non kayu.

Kelima, Tempat menjelajah dan bersantai. Hutan menyimpan banyak misteri yang belum terungkap. Ada berbagai spesies yang belum teridentifikasi tersembunyi di hutan, menunggu untuk ditemukan. Hutan menjadi laboratorium alam bagi kita, manusia yang haus akan ilmu pengetahuan.

Peringatan Hari Hutan Sedunia

Pada hari ini, tepat tujuh tahun yang lalu, tanggal 21 Maret ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Hutan Sedunia dalam resolusi PBB 67/200. Hari yang dalam bahasa inggris berbunyi International Day of Forest ini diperingati dengan tujuan mengingatkan seluruh manusia tentang pentingnya hutan dalam keberlangsungan hidup manusia. Tahun 2017 ini, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan memperingati Hari Hutan Sedunia dengan mengusung tema “Hutan dan Energi”.

Marilah, peringatan Hari Hutan Sedunia kali ini kita jadikan momentum untuk bersama-sama menjaga hutan. Tanpa mengecilkan ancaman lainnya. Si Jago Merah alias Kebakaran dengan efek domino yang dihasilkannya, merupakan ancaman serius yang patut dikedepankan.

Provinsi kita tercinta jauh-jauh hari telah mengantisipasi bahaya ini. Seperti dikutip dari digital news sumeks.co.id, Per 1 Februari, Sumatera Selatan menetapkan status tanggap darurat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Untuk itu, pemprov meningkatkan koordinasi dengan instansi terkait. Mulai dari TNI, Polri, BPBD, SAR, Polhut, Manggala Agni dan lainnya. Total ada 5.300 personel yang terlibat karhutla.

Menyikapi persiapan di atas, sebagai warga negara yang baik, kita wajib berpartisipasi mencegah bangkitnya Sang Agni. Beberapa tindakan yang dapat kita lakukan diantaranya; pertama, tidak membuka lahan dengan cara membakar. Kedua, bergabung dalam tim penanggulangan kebakaran. Ketiga, turut memantau kebakaran dan segera melaporkan kejadian kebakaran hutan dan lahan ke pihak terkait. Dan yang terakhir, membuat tempat penampungan air.

Semoga, dengan segenap usaha yang kita lakukan. Sang Monster tak terbangun dari tidurnya, biarlah Si Jago Merah tertidur dan terus tertidur. Sehingga bencana karhutla masif dan kabut asap dapat terhindari. Selamat Hari Hutan Sedunia! (*)

*) Analis di BPDASHL Musi

 

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Terkini

Suara Pembaca