Items filtered by date: Desember 2016

Wajah Sumirawati, 21, tampak semringah tatkala sang pujaan hati, Ari Saputra, 20, melamarnya.Wanita yang akrab disapa Sumi itu tidak menduga lamaran tersebut hanya modus untuk menghabisi nyawanya.

 

Achmad Mundzirin, Pontianak

 

Sumi dan Ari sudah cukup lama menjalin kasih. Ari mendatangi kediaman Sumi di Jalan Karet, Pontianak Barat. Dia langsung menemui orangtua Sumi, Rabu (28/12) malam.Saat itu Sumi juga berada di rumahnya. Di hadapan kekasihnya, Ari mengatakan melamar dan akan menikahi Sumi di hadapan orangtua gadis 21 tahun itu.Hati Sumi pun berbunga-bunga. Dia terlihat sangat senang, ketika kekasihnya memperlihatkan sikap tegas dengan melamarnya di hadapan orangtuanya.

Setelah itu Ari berpamitan meninggalkan rumah Sumi menuju mobil Avanza putih KB 1747 SG yang dikendarainya. Kemudian Sumi membuntuti kekasihnya itu menggunakan sepeda motor matic. Pasangan kekasih ini bertemu di jalan raya tak jauh dari rumah Sumi. Tak lama Yoga, rekan Ari, tiba di lokasi pertemuan itu. Sumi masuk ke mobil Ari, sedangkan sepeda motornya dibawa oleh Yoga.Setelah puas berkeliling di Kota Pontianak, Ari dan Sumi menuju Hotel Benua Mas di Jalan 28 Oktober, Pontianak Utara. Mereka check in kamar Nomor A 5 di hotel tersebut. Kamar itu disewa seharga Rp100 ribu per delapan jam. Di kamar hotel keduanya memadu kasih. Mereka melakukan hubungan terlarang. Selesai, Sumi bertanya kapan Ari Saputra akan menikahinya.Bukannya dijawab, Ari malah naik pitam. Keduanya cekcok mulut.

Akhirnya Sumi mengalah dan dia baring di kasur. Saat itulah Ari melanjutkan perencanaan membunuh kekasihnya. Sumi yang sedang baring, tiba-tiba dicekik Ari. Wanita ini pun berontak, berupaya melakukan perlawanan.Kakinya yang dapat bergerak bebas digunakan untuk menendang Ari. Kemudian keduanya terjatuh dan bergumul di lantai kamar. Kewalahan melawan Sumi yang terus melawan, Ari mengambil pisau yang sudah disiapkan dari rumahnya. Dia pun menusukkan pisau tersebut ke perut Sumi. Meskipun sudah tak berdaya, namun Sumi masih bisa berdiri. Dia mencabut pisau yang menancap di perutnya, kemudian hendak menikam Ari.Mengetahui akan ditikam, Ari pun menangkisnya. Dengan cepat dia membenturkan kepala Sumi ke meja. Dua kali benturan, Sumi pun tewas mengenaskan. Kepalanya pecah dan tergeletak di lantai kamar hotel.Di hadapan polisi dan wartawan, Ari mengaku Sumi itu mantan pacarnya.

Dulunya mereka berpacaran. Namun Ari tidak menikahinya, malah menikahi wanita lain.Belum lama menikah, Ari menceraikan istrinya. Kemudian dia pun mendekati mantan kekasihnya itu. Padahal Sumi telah memiliki kekasih.Setelah mengetahui Ari sudah cerai dengan istrinya, Sumi pun menggantung hubungannya dengan kekasihnya tersebut. Tak memakan waktu lama, Ari pun kembali mendapatkan Sumi sebagai kekasihnya.“Saya sudah kenal dengan Sumi sejak tahun 2015, bahkan kami pernah menjalin hubungan asmara. Sumi ini mantan saya. Kami putus setelah saya menikah. Saat saya cerai, Sumi kembali menghubungi saya dan akhirya dekat lagi. Padahal Sumi sudah punya pacar. Tapi pacar Sumi merasa digantung hubungannya, akhirnya saya pun berani mendekati Sumi kembali,” katanya.Ari mengaku kesal, karena selalu ditanya kapan akan menikahi kekasihnya itu. Sementara dia terhimpit masalah ekonomi.Ari menganggap Sumi tidak mengerti tentang keadaannya, terlagi saat ini dia tidak memiliki pekerjaan.“Saya kesalnya di situ, desakan menikah oleh Sumi. Sejak minggu lalu sudah saya rencanakan akan menghabisi nyawanya,” ungkap Ari ketika ditemui di Mapolresta Pontianak, Kamis (29/12). Usai menghabisi nyawa kekasihnya, Ari mengirim short message service (SMS) ke handphone orangtua Sumi. “Saya SMS pakai handphone Sumi, seolah-olah dari Sumi. Saya bilang pulang agak malam hari ini,” katanya. Setelah itu Ari pulang ke rumahnya. Kemudian dia memanggil temannya bernama Yoga dan menyuruhnya mengantar sepeda motor milik Sumi ke rumahnya.Sepeda motor itu digadaikannya kepada rekannya bernama Nazori alias Gatot seharga Rp2,1 juta. Kemudian Nazor alias Gatot kembali menggadaikan sepeda motor itu kepada Asep Heriyanto alias Asep sebesar Rp2,7 juta.Belum sempat melarikan diri, Ari disergap Tim Jatanras Polresta Pontianak di Gang Dharma Putra 19, Pontianak Barat, tak jauh dari rumah temannya. Bukannya menyerahkan diri, Ari malah mencoba kabur dari petugas. Tembakan peringatan pun tak dihiraukannya. Polisi akhirnya menembak kaki kanannya.

Ari pun digelandang ke Mapolresta Pontianak, setelah mendapat perawatan medis di Dokkes Polda Kalbar. Tim Jatanras juga meringkus penadah sepeda motor Sumi, yakni Nazori alias Gatot dan Asep. Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Andi Yul Lapawesean mengaku kesal dengan sistem di Hotel Benua Mas. Manajemen hotel tidak mencatat identitas tamu yang menggunakan jasa penginapan. “Harusya itu mencatat identitas, bukan hanya mencatat plat KB kendaraan. Tidak boleh hotel seperti itu. Setidaknya KTP yang menginap terdata di administrasi perhotelan,” tegas Kompol Andi Yul.Pengungakapan yang dilakukan jajarannya terbilang sangat cepat. Kompol Andi Yul melacak pelaku pembunuhan ini dari plat mobil yang dikendarai Ari.“Platnya diketahui, kemudian kita lakukan pengecekan. Akhirnya diketahui bahwa mobil yang digunakan Ari adalah mobil rental. Dengan cepat kita tanyakan kepada yang menyewakan. Maka diketahuilah yang menyewa itu Ari Saputra. Saat itu mobil sudah dikembalikan oleh Ari,” jelas Kompol Andi Yul.“Dia kita tembak, karena terus berusaha melarikan diri saat kita lakukan penangkapan,” tegas Kompol Andi Yul.

Kapolresta Kombes Iwan Imam Susilo memastikan Ari melakukan pembunuhan berencana. Pelaku telah menyediakan sarana dan alat untuk menghabisi nyawa Sumi. “Pelaku sudah membawa pisau terlebih dahulu, kemudian menghabisi nyawa korban di Hotel Benua Mas,” tegas Kapolresta.Ari dijerat pasal 340 KUHP jo pasal 339 da 338 KUHP. Ancamannya hukuman maksimal 20 tahun penjara, seumur hidup atau hukuman mati. Mengetahui terancam hukuman mati, Ari pun menangis. Namun dia mengatakan siap dihukum mati.“Saya sudah memperhitungkan sebelumnnya, sebelum menghabisi nyawa Sumi. Saya siap dihukum mati. Saya ingin menyampaikan permintaan maaf kepada orangtua Sumi dan orangtua saya,” ujar Ari. (ham)

Published in DOR!

Hendri tidak menyangka Ari tega menghabisi nyawa sang adik. “Dulu waktu pacaran sama adik saya, dia bersikap baik. Main di rumah saya dan baik kepada keluarga. Kadang-kadang makan di rumah,” bebernya.BACA: Bertemu Mantan Pacar, Dilamar, Lantas DibunuhSementara sejumlah keluarga Sumi yang menemani Pa’i di teras rumah menginginkan pelaku mendapat balasan yang setimpal. “Pelaku itu harus dihukum mati,” pinta pria yang enggan namanya dikorankan itu. (*/habis)

Published in DOR!

   Sehari-hari, Sumi yang lahir 11 Februari 1995 itu dekat dengan Sang Ayah. “Dia yang antar jemput saya ke pasar. Dia anak saya satu-satunya yang membantu saya. Sekarang saya seperti patah kaki,” kenangnya.Bahkan, saking sayangnya, Sumi yang sempat bekerja di mall diminta berhenti kerja oleh Pa’i. “Soalnya pulang kerja jam 11 sampai 12 malam. Saya khawatir dan takut karena rawan,” bebernya.Bahkan kadang Pa’i tidak bisa tidur jika Sumi belum pulang ke rumah. “Makanya saya minta dia berhenti kerja.

Daripada saya tidak tidur. Saya juga tidak mengizinkan dia keluar malam,” ungkapnya.Untuk kasus pembunuhan yang menimpa putri bungsunnya, Pa’i menyatakan, menyerahkan sepenuhnya pada proses hukum kepada aparat.“Kalau bisa, Ari dihukum sebagaimana dia memperlakukan anak saya. “Dia itu halus mainnya dan sadis,” ucapnya disusul tetesan air mata.Sementara di dalam rumah, Sang Ibu, Jahara (48) masih syok. Istri Pa’i itu bahkan tak mau bertemu kedua abang Sumi. “Badannya lemas,” kata Pa’i.Sumi memiliki dua saudara bernama Hendri dan Yandi Susanto. “Sumi tidak ada kegiatan. Sehari-harinya di rumah,” ungkap Hendri.Ia mengisahkan, adiknya mengenal Ari sejak awal 2015. “Pacaran satu tahun, lalu putus di awal tahun 2016. Kemudian nyambung lagi baru-baru ini,” ujarnya. (bersambung)

Published in DOR!

Sebagai ayah, Pa’i tentu ingin mengetahui lebih jauh tentang Ari. “Saya juga sempat tanya, kalau tambang kapal seperti mengirim mobil ke Ketapang itu berapa ongkosnya? Dia jawab Rp800 ribu sambil menjelaskan juga bahwa tiket pesawat dia seharga Rp750 ribu,” terangnya.Tahu Ari ingin bertolak ke Ketapag, Pa’i pun mengingatkan pelaku untuk segera pulang agar tidak terlambat. “Saya bilang nanti terlambat pulang. Dia pun menurut sambil bilang ya sudah, saya pamit saja pak,” kisahnya.Pa’i pun mengantarkan Ari ke depan rumah. “Saya bilang, hati-hati di jalan nak ye,” ungkapnya.Tidak lama kemudian, setelah Ari pamit pulang.

Sumi pun izin keluar rumah menggunakan sepeda motor Yamaha Mio.“Saya tidak tahu Sumi itu mau ke mana. Pikir saya hanya main ke rumah temannya,” kenangnya.Magrib pun tiba, azan berkumandang. Entah mengapa hati Pa’i mulai gelisah.“Saya telpon HP-nya tapi tidak aktif. Dari Maghrib tidak aktif. Jujur saja, saya jarang telpon kalau Sumi keluar. Tapi kemarin itu hati saya gelisah, pengin nelpon anak saya terus,” ungkapnya.Di mata Sang Ayah, Sumi, merupakan sosok anak yang ceria dan tida pernah tertutup. “Tidak sering berpergian. Dia tidak tertutup, tapi tidak pernah bercerita tentang hubungan atau pacarnya,” terang Pa’i. (bersambung)

Published in DOR!

Pa’i masih penasaran. Dia melontar pertanyaan kembali. “Saya juga tanya dia kerja di bank apa? Sambil nyetir dia jawab, kerja BRI. Ini kendaraan siapa punya? Ari jawab, saya sendiri lah,” urainya.Sebelum tiba, Ari sempat menyinggahkan mobil yang dikemudikannya di sebuah pusat perbelanjaan. “Kami singgah beli kue di Garuda Mitra,” tukas Pa’i.Ia menyambung perbincangannya.

“Kapan pulang ke Ketapang, tanya saya. Dia jawab, besok pak. Sambil menerangkan bahwa kendaraan (mobil) ini akan dikirim lewat kapal dan dia naik pesawat. Garuda Indonesia,” jelasnya.Jam 10.00 malam, mereka tiba di rumah Sumi. “Habis ngantar saya, dia pamit. Dia sempat menyalami saya. Kebetulan Sumi tidak keluar kamar, karena keletihan,” ceritanya.Esok harinya, Rabu (28/12), Ari datang kembali menemui Sumi di rumah.

“Baru sampai depan rumah, Ari itu langsung bertanya kepada Sumi, mana bapak, katanya. Sumi bilang saya ada di dalam dan Ari minta tolong untuk memanggil saya,” kata Pa’i.Pria yang tidak bisa mengendarai sepeda motor itu lantas keluar menemui Ari. “Ari bilang ke saya begini; saya datang ke sini ingin menyampaikan pesan mamak dan bapak saya, pak. Bahwa 25 Januari sepulang dari Ketapang, saya mau melamar anak bapak,” tuturnya menirukan Ari.Mendengar cakap Ari, orangtua Sumi menyampaikan bahwa jika ingin datang ke rumah serta membawa keluarga, tolong jauh-jauh hari memberitahu.“Saya jawab begitu, dia tidak nyahut dan hanya diam. Lalu kami minum kopi dan habis itu adzan ashar. Karena adzan, saya bertanya ke dia. Kok masih belum pulang ke Ketapang,” tutur Pa’i. “Tiket saya ditunda. Dari jam 2 siang ke jam 5.20,” jawab Ari. (bersambung)

Published in DOR!

Sambil menyeruput kopi, Pa’i yang bekerja sebagai penjual ikan di Pasar Teratai Jeruju itu menceritakan sosok Ari Saputra yang merupakan pembunuh putri bungsunya. “Dia sering main ke rumah saya,” kisahnya.Sebelum maut menjemput Sumi, Selasa (27/12) sekitar pukul 15.00, Ari bertandang. Bahkan, sempat salat berjamaah bersama Pa’i di mushola.“Awalnya dia ngobrol dengan Sumi. Sekitar jam lima sore, dia (Ari) pamit. Tapi sebelum Maghrib dia datang lagi dan sempat salat dengan saya di surau,” tutur Pa’i seraya menunjuk mushola.Usai salat, ia berencana pergi ke RS Anton Sudjarwo untuk menjenguk keponakannya yang sedang dirawat.

Ari pun sempat menawarkan jasa kepada pria paruh baya tersebut.“Dia bilang, biar saya antar saja Pak. Karena saya ada mobil,” ucap Pa’i menirukan Ari.Tawaran itu diterima. “Habis Salat Maghrib, saya pergi ke RS bersama Sumi dan Ari. Ketika saya di RS, dia (Ari) keluar berdua Sumi untuk mencari makan. Tidak lama jemput lagi. Saya pun langsung pulang ke rumah,” ujarnya.Di dalam perjalanan pulang ke rumah dari RS Anton Sudjarwo, Pa’i yang sudah mengenal Ari sejak dua tahun silam itu sempat bertanya, mengapa lama tidak tampak.“Dia jawab, saya di Ketapang, pak. Saya tanya lagi, kerja apa di sana. Dia jawab lagi, saya kerja di bank,” ceritanya. (bersambung)

Published in DOR!

Perawakan pria berkulit hitam itu masih terlihat sedih. Bola matanya terlihat memerah. Pa’i Matong (52) adalah ayah dari Sumirawati (21), korban pembunuhan sadis di Hotel Benua Mas, Jalan 28 Oktober, Kawasan Siantan Hulu, Pontianak Utara.

 

Deska Irnansyafara & Iman Santosa, Pontianak

 

“Malam itu saya dapat telepon dari kerabat. Saya terkejut dan panik ketika kawan menyampaikan kabar bahwa anak saya sudah meninggal dunia,” ucap Pa’i Matong di teras rumahnya, saat ditemui Rakyat Kalbar (Jawa Pos Group), Kamis (12).Sumirawati, dibunuh sang pujaan hati, Ari Saputra, 20, di Hotel Benua Mas, Jalan 28 Oktober, Kawasan Siantan Hulu, P

tianak Utara, tidak selang lama setelah dia menyampaikan niat melamar.Sumi telah dimakamkan di pemakaman kawasan Gang Sapta Marga, Kelurahan Sungai Beliung, Pontianak Barat. Tak jauh dari kediamannya.Di hari pemakaman, rumah duka di Gang Karya Tani II, Jalur II, Jalan TPS Pelabuhan Rakyat, Kelurahan Sungai Beliung, Pontianak Barat, persis di depan mushola itu sudah dipenuhi kerabat dan rekan semasa Sumi hidup.“Setelah dapat telpon, saya langsung bergegas ke depan jalan utama untuk menunggu kedatangan kawan yang hendak menjemput. Saya langsung pergi ke RS Anton Sudjarwo,” kata Pa’i. (bersambung)

Published in DOR!

Tenaga kerja asing (TKA) ilegal, terutama dari Tiongkok, sudah menjamur di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.Di sana, ribuan TKA bekerja di sektor kasar yang semestinya bisa diisi tenaga kerja lokal.Para pekerja asing itu bekerja di proyek pembangunan nasional yang digarap investor Tiongkok.Berdasar penelusuran Jawa Pos di lokasi proyek yang berada di Desa/Kecamatan Morosi, Konawe, mudah ditemukan pekerja asing yang menduduki posisi buruh angkut campuran semen, angkut potongan besi, hingga sopir kendaraan katrol.

Fahrudin, warga setempat, mengatakan, TKA kasar di Morosi sebenarnya ada sejak lama.Namun, belum pernah ada operasi keimigrasian dan ketenagakerjaan yang berhasil mengungkap keberadaan pekerja itu.’’Yang terdata secara tertulis di perusahaan dan imigrasi hanya 600 pekerja asing,’’ ujarnya kepada Jawa Pos kemarin (30/12).Fahrudin menceritakan, para TKA itu selalu lari saat ada operasi imigrasi dan ketenagakerjaan. Misalnya, saat operasi keimigrasian beberapa minggu lalu, tak ada seorang pun tenaga kerja asing kasar yang terjaring.’’Karena mereka (TKA) lari ke hutan kalau ada operasi, sembunyi,’’ kata pria yang pernah bekerja sebagai tukang jasa antar galon air mineral dan tabung gas untuk pabrik para TKA bekerja tersebut.M. Fajrian, tenaga lokal yang bekerja di proyek Morosi, membenarkan soal banyaknya pekerja asing yang berposisi tenaga kasar.Imbalan mereka pun lebih besar daripada orang pribumi yang bekerja di posisi yang sama.

’’Kalau kami (pekerja lokal) dibayar Rp 90 ribu per hari, tapi kalau mereka (pekerja kasar Tiongkok) bisa Rp 400 ribu sehari,’’ bebernya.Kepala Bidang Hubungan Industrial dan Pengawasan Ketenagakerjaan (Kabid HI dan PK) Disnakertrans Sultra Makner Sinaga mengakui kinerja pengawasan TKA memang belum maksimal.’’Saya akui itu, kami tidak maksimal. Tapi, kendala yang kami hadapi juga tidak sedikit. SDM yang sedikit, lingkup kerjanya sampai 17 kabupaten/kota,’’ ujarnya.Dia menjelaskan, di Sultra terdapat 7.203 perusahaan. Sesuai dengan data yang diperoleh, dari total tersebut, hanya 14 perusahaan yang mempekerjakan TKA dengan total 739 orang.’’Keterbatasan SDM dan anggaran sehingga membuat kinerja kami tidak maksimal. TKA di Sultra sendiri mayoritas bekerja di sektor tambang,’’ ungkapnya. (tyo/jpg/c19/ang)

Published in NASIONAL
Minggu, 01 Januari 2017 01:15

Malam Tahun Baru Aman dan Lancar

Malam pergantian tahun 2016 ke 2017 di Indonesia berjalan aman dan lancar. Tidak ada kejadian menonjol yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian memantau langsung situasi kamtibmas malam tahun baru 2017 dari Mabes Polri. "Kapolri memantau langsung keamanan pergantian tahun di seluruh Indonesia dari Mabes Polri. Situasi. Dilaporkan sampai saat ini situasi masih kondusif di seluruh daerah," tegas Kepala Divisi Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar, Sabtu (31/12).Boy memastikan tidak ada gangguan atau hal yang membahayakan aktivitas masyarakat Indonesia dalam perayaan pergantian tahun."Alhamdulillah terpantau aman," tegas jenderal bintang dua ini. Khusus Ibu Kota Jakarta, perayaan tahun baru juga berjalan aman dan lancar. (jpnn)

Published in BERITA UTAMA
Sabtu, 31 Desember 2016 23:09

Tahun Baru, Novotel Manjakan Anak anak

Palembang - Novotel Palembang juga melakukan perayaan tahun baru 2017 di pradise hall. Berbeda dengan tahun sebelumnya, hotel Novotel Palembang kini menyediakan wahana bermain bagi anak anak. Marketing comunication manager, Wendy Natasha, mengatakan perayaan tahun baru sengaja dibuat wahana bermain bagi anak anak.  "Karena terkadang anak anak ini bosan menunggu orang tuanya, kadang rewel juga nah jadi disiapkan wahana bermain," ujarnya. Oleh karena itu, anak anak bisa bermain di empat  wahana bermain yang sudah disiapkan, sehingga anak-anak juga menikmati. "Namanya perayaan semua harus senang, sehingga bisa menikmati malam pergantian tahun ini," terangnya.  Untuk tema kali ini adalah paradise island festival dimana berbagai hiburan sudah disiapkan. "Ada home band, dancer, DJ performance dan ada artis ibukota Tika Ramlan," tukasnya. (way)

Published in HEADNEWS
Halaman 1 dari 194

Get in touch

Harian Pagi Sumatera Ekspres 
Terbesar Disumatera Selatan
Gedung Graha Pena Jl. Kol H Burlian
No.773 KM.6,5 Palembang 30152
Telp : 0711 - 411768
Fax : 0711 - 420066

      

Terpopuler

Suara Pembaca